Mars

MarsDiterjemahkan oleh tim Menrva untuk Wikipedia

Mars adalah planet terdekat keempat dari Matahari. Namanya diambil dari dewa perang RomawiMars. Planet ini sering dijuluki sebagai “planet merah” karena tampak dari jauh berwarna kemerah-kemerahan. Ini disebabkan oleh keberadaan besi(III) oksida di permukaan planet Mars. Mars adalah planet bebatuan dengan atmosfer yang tipis. Di permukaan Mars terdapat kawah, gunung berapi, lembah, gurun, dan lapisan es. Periode rotasi dan siklus musim Mars mirip dengan Bumi. Di Mars berdiri Olympus Mons, gunung tertinggi di Tata Surya, danValles Marineris, lembah terbesar di Tata Surya. Selain itu, di belahan utara terdapat cekungan Borealis yang meliputi 40% permukaan Mars.

Lingkungan Mars lebih bersahabat bagi kehidupan dibandingkan keadaan Planet Venus. Namun begitu, keadaannya tidak cukup ideal untuk manusia. Suhu udara yang cukup rendah dan tekanan udara yang rendah, ditambah dengan komposisi udara yang sebagian besar karbondioksida, menyebabkan manusia harus menggunakan alat bantu pernapasan jika ingin tinggal di sana. Misi-misi ke planet merah ini, sampai penghujung abad ke-20, belum menemukan jejak kehidupan di sana, meskipun yang amat sederhana.

Planet ini memiliki 2 buah satelit, yaitu Phobos dan Deimos. Planet ini mengorbit selama 687 hari dalam mengelilingi matahari. Planet ini juga berotasi. Kala rotasinya 25,62 jam.

Di planet Mars, terdapat sebuah fitur unik di daerah Cydonia Mensae. Fitur ini merupakan sebuah perbukitan yang bila dilihat dari atas nampak sebagai sebuah wajah manusia. Banyak orang yang menganggapnya sebagai sebuah bukti dari peradaban yang telah lama musnah di Mars, walaupun di masa kini, telah terbukti bahwa fitur tersebut hanyalah sebuah kenampakan alam biasa.

 

marsCiri fisik

Mars memiliki jari-jari sekitar setengah dari jari-jari Bumi. Planet ini kurang padat bila dibandingkan dengan Bumi, dan hanya memunyai sekitar 15% volume dan 11% massa Bumi. Luas permukaannya lebih kecil dari jumlah wilayah kering di Bumi. Mars lebih besar daripadaMerkurius, tetapi Merkurius lebih padat. Akibatnya kedua planet memunyai tarikan gravitasi yang hampir mirip di permukaan—dan tarikan Mars lebih kuat sekitar kurang dari 1%. Ukuran, massa, dan gravitasi permukaan Mars berada “di antara” Bumi dan Bulan (diameter Bulan hanya setengah dari Mars, sementara Bumi dua kalinya; Bumi sembilan kali lebih besar dari Mars, dan Bulan satu per sembilannya). Kenampakan permukaan Mars yang merah-jingga diakibatkan oleh keberadaan besi(III) oksida, yang lebih dikenal dengan nama hematite.

Geologi

Berdasarkan pengamatan orbit dan pemeriksaan terhadap kumpulan meteorit Mars, permukaan Mars terdiri dari basalt. Beberapa bukti menunjukkan bahwa sebagian permukaan Mars memunyai silika yang lebih kaya daripada basalt biasa, dan mungkin mirip dengan batu-batu andesit di Bumi. Sebagian besar permukaan Mars dilapisi oleh debu besi(III) oksida yang memberinya kenampakan merah.

Saat ini Mars tidak memunyai medan magnet global, namun hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian kerak planet termagnetisasi, dan medan magnet global pernah ada di masa lalu. Salah satu teori yang diumumkan pada tahun 1999 dan diperiksa ulang pada Oktober 2005 (dengan bantuan Mars Global Surveyor) menunjukkan bahwa empat miliar tahun yang lalu, dinamo Mars berhenti berfungsi dan mengakibatkan medan magnetnya menghilang. Ada pula teori bahwa asteroid yang sangat besar pernah menghantam Mars dan mematikan medan magnetnya.

Inti Mars, yang jari-jarinya diperkirakan sebesar 1.480 km, terdiri dari besi dan 14-17% sulfur. Inti besi sulfida ini cair. Lapisan di atas inti Mars adalah mantel silikat yang membentuk banyak objek tektonik dan vulkanik di Mars, tetapi saat ini mantel tersebut sudah tidak aktif. Di atas lapisan mantel adalah kerak, yang ketebalan rata-ratanya sekitar 50 km, dan ketebalan maksimumnya 125 km.

Saat pembentukan Tata Surya, Mars terbentuk dari cakram protoplanet yang mengelilingi Matahari Matahari. Planet ini punya ciri kimia yang berbeda karena letaknya di Tata Surya. Unsur dengan titik didih yang rendah seperti klorin, fosfor, dan sulfur ada dalam jumlah yang lebih besar daripada di Bumi. Unsur-unsur tersebut kemungkinan dihalau dari daerah yang dekat dengan Matahari oleh angin matahari muda yang kuat.

Setelah terbentuk, planet-planet melewati masa “Pengeboman Berat Akhir“. Bekas tubrukan dari masa tersebut dapat dilihat di 60% permukaan Mars. 40% permukaan Mars adalah bagian dari cekungan yang diakibatkan oleh tubrukan objek sebesar Pluto empat miliar tahun yang lalu. Cekungan di belahan utara Mars yang membentang sejauh 10.600 km ini kini dikenal dengan nama cekungan Borealis.

Sejarah geologi Mars dapat dibagi menjadi beberapa masa, tetapi berikut adalah tiga masa utama:

  • Masa Noachis (dinamai dari Noachis Terra): Pembentukan permukaan tertua Mars, antara 4,5 miliar hingga 3,5 miliar tahun yang lalu. Permukaan dari masa Noachis ada dalam banyak kawah tubrukan yang besar. Tonjolan Tharsis, dataran tinggi vulkanik, diduga terbentuk pada masa ini. Pada akhir masa ini banjir besar juga terjadi.
  • Masa Hesperia (dinamai dari Hesperia Planum): 3,5 miliar tahun yang lalu hingga 2,9–3,3 miliar tahun yang lalu. Masa ini ditandai dengan pembentukan dataran lava.
  • Masa Amazonis (dinamai dari Amazonis Planitia): 2,9–3,3 miliar tahun yang lalu hingga sekarang. Olympus Mons terbentuk pada periode ini, dan begitu pula aliran lava lain.

Aktivitas geologi masih berlangsung di Mars. Athabasca Valles merupakan tempat mengalirnya lava sejak 200 juta tahun yang lalu. Air mengalir di graben yang disebut Cerberus Fossaesekitar 20 juta tahun yang lalu, yang merupakan tanda-tanda terjadinya intrusi vulkanik. Pada 19 Februari 2008, citra yang diabadikan oleh Mars Reconnaissance Orbitermenunjukkan bukti terjadinya longsor di tebing setinggi 700 m.

Tanah

Berdasarkan data dari wahana Phoenix, tanah Mars terdiri dari unsur seperti magnesiumsodiumpotasium, dan klorida. Nutrien tersebut dapat ditemui di kebun Bumi dan penting dalam pertumbuhan tanaman. Percobaan yang dilakukan oleh wahana Phoenix menunjukkan bahwa tanah Mars punya pH sebesar 8,3, dan mengandung garam perklorat.

Warna bubuk dapat ditemui di seluruh Mars. Seringkali warna bubuk baru muncul di lereng curam kawah, palung, dan lembah. Warna bubuk awalnya berwarna gelap, dan seiring berjalannya waktu, warnanya menjadi semakin menjadi terang. Kadang-kadang warna bubuk muncul dalam ukuran yang kecil, dan lalu melebar hingga ratusan meter. Warna bubuk juga mengikuti tepi batuan. Berdasarkan teori yang banyak diterima, warna bubuk merupakan lapisan tanah gelap di bawah yang muncul karena longsor atau badai debu. Ada pula penjelasan lain, yang melibatkan air, dan bahkan pertumbuhan organisme.

Hidrologi

Air tidak dapat bertahan di permukaan Mars karena tekanan atmosfernya yang rendah. Di ketinggian terendah, air masih dapat bertahan dalam waktu yang singkat. Dua lapisan es di Mars diduga terdiri dari air. Jika dicairkan, volume air di lapisan es kutub selatan mampu melapisi seluruh permukaan planet dengan kedalaman 11 meter. Lapisan permafrost terbentang dari kutub hingga lintang 60°.

Es air dalam jumlah besar diduga terperangkap di bawah lapisan kriosfer Mars. Data dari Mars Express dan Mars Reconnaissance Orbiter menunjukkan keberadaan es air yang besar di kedua kutub (Juli 2005) dan lintang tengah (November 2008). Wahana Phoenix secara langsung mengambil sampel es air di Mars pada 31 Juli 2008.

Dari kenampakan permukaan Mars dapat dilihat bahwa air pernah mengalir di permukaan planet tersebut. Saluran banjir besar yang disebut saluran keluar (outflow channel) dapat ditemui di 25 tempat, dan diduga merupakan tanda-tanda terjadinya erosi pada masa lepasnya air dari akuifer di bawah tanah, meskipun struktur tersebut juga diduga diakibatkan oleh glasier atau lava. Saluran termuda diduga terbentuk sekitar beberapa juta tahun yang lalu. Di tempat lain, terutama di wilayah tertua permukaan Mars, jaringan lembah yang bercabang menyebar di sepanjang bentang alam. Ciri dan persebaran lembah tersebut menunjukkan bahwa lembah tersebut dibentuk oleh limpasan permukaan yang diakibatkan oleh hujan atau salju pada awal sejarah Mars. Aliran di bawah permukaan dan proses pengikisan tanah dari lereng oleh air tanah yang ada di tepi sungai atau lereng bukit mungkin memainkan peran tambahan di beberapa jaringan, namun hujan kemungkinan merupakan penyebab utama.

Di Mars juga ada ribuan kenampakan di kawah dan dinding lembah yang mirip dengan parit. Parit tersebut biasanya ada di dataran tinggi belahan selatan. Sejumlah penulis menyatakan bahwa proses pembentukannya memerlukan air, kemungkinan dari es yang mencair, namun ada pula yang meyakini bahwa es karbon dioksida dan pergerakan debu kering-lah yang membentuknya. Parit-parit tersebut sangat muda, bahkan mungkin masih aktif hingga sekarang.

Ciri geologis lain, seperti delta dan kipas alluvial, digunakan sebagai dasar untuk mendukung gagasan bahwa Mars pada awalnya lebih hangat dan basah. Keadaan semacam itu memerlukan keberadaan banyak danau di permukaan, dan untuk itu ada bukti-bukti mineralogis, sedimentalogis, dan geomorfologis.Beberapa penulis bahkan menyatakan bahwa pada masa lalu sebagian besar dataran rendah di utara merupakan samudra, meskipun hal ini masih diperdebatkan.

Bukti lebih lanjut bahwa air pernah ada di permukaan Mars muncul dari pelacaktemuan beberapa mineral tertentu seperti hematit dan goetit, yang kadang-kadang terbentuk saat air ada. Beberapa bukti yang sebelumnya diyakini menunjukkan keberadaan cekungan dan aliran air kuno telah ditampik oleh penilikan beresolusi tinggi oleh Mars Reconnaissance Orbiter. Pada tahun 2004, Opportunity melacaktemu mineral jarosit. Mineral ini hanya terbentuk jika ada air berasam, yang menunjukkan bahwa air pernah ada di Mars.

Lapisan es kutub

Mars punya dua lapisan es kutub permanen. Selama musim dingin di salah satu kutub, lapisan tersebut diselubungi oleh kegelapan, sehingga mendinginkan permukaan dan menyebabkan 25-30% atmosfer mengembun menjadi es CO2 (es kering). Saat matahari kembali menyinari kutub, CO2 yang membeku menyublim, sehingga menghasilkan angin kencang yang menyapu wilayah kutub dengan kecepatan 400 km/jam. Peristiwa musiman tersebut mengangkut banyak debu dan uap air yang menghasilkan embun beku dan awan cirrus besar. Awan es-air dicitrakan oleh Opportunity pada tahun 2004.

Lapisan es Mars terdiri dari es air. Karbon dioksida beku melapisinya dengan ketebalan satu meter di kutub utara pada musim dingin; sementara di kutub selatan, lapisan es kering tersebut bersifat permanen dengan ketebalan delapan meter. Diameter lapisan es kutub utara tercatat sekitar 1.000 kilometer selama musim panas, dan mengandung sekitar 1,6 juta km kubik es. Lapisan es kutub selatan memunyai diameter sekitar 350 km dan ketebalan 3 km. Total volume es di kutub selatan ditambah lapisannya diperkirakan juga sekitar 1,6 juta km kubik.Di kedua lapisan es terdapat lembang-lembang, yang diduga terbentuk oleh pemanasan matahari, ditambah dengan penyubliman es dan pengembunan uap air.

Pembekuan musiman di beberapa wilayah di dekat lapisan es kutub selatan mengakibatkan pembentukan es kering transparan setebal 1 meter di atas permukaan. Begitu musim semi datang, tekanan dari penyubliman CO2 mengangkat dan memecahkan lapisan tersebut. Akibatnya, terjadi letusan gas CO2 yang bercampur dengan pasir atau debu basalt gelap. Proses ini berlangsung cepat dan tidak biasa dalam geologi Mars. Gas yang bergerak cepat di bawah lapisan ke tempat letusan menghasilkan pola saluran radial yang seperti laba-laba di bawah es.

Geografi

Meskipun dikenang karena memetakan Bulan, Johann Heinrich Mädler dan Wilhelm Beer merupakan para “aerografer” pertama. Mereka merintis bahwa sebagian besar permukaan Mars bersifat permanen, dan menentukan periode rotasi planet. Pada tahun 1840, Mädler memadukan hasil pengamatannya selama sepuluh tahun dan menggambar peta pertama Mars. Daripada memberi nama, Beer dan Mädler menyebut beberapa tempat dengan huruf.

Saat ini, fitur-fitur di Mars dinamai dari berbagai sumber. Fitur albedo dinamai dari mitologi klasik. Nama kawah yang lebih besar dari 60 kilometer (37 mil) berasal dari ilmuwan, penulis, dan tokoh lain yang membantu penelitian Mars. Kawah yang lebih kecil dari 60 km dinamai dari kota dan desa di dunia dengan jumlah penduduk lebih kecil dari 100.000. Lembah besar dinamai dari kata mars atau bintang dalam berbagai bahasa, sementara lembah kecil dari sungai-sungai.

Nama fitur albedo besar tetap dipertahankan, tetapi kadang-kadang diperbaharui untuk melambangkan pengetahuan baru tentang sifat fitur tersebut. Contohnya, Nix Olympica (salju Olympus) diubah menjadi Olympus Mons (Gunung Olympus). Permukaan Mars seperti yang terlihat dari Bumi terbagi menjadi dua macam daerah, dengan albedo yang berbeda. Dataran pucat yang dilapisi debu dan pasir yang kaya akan besi oksida awalnya diduga sebagai ‘benua’ Mars dan diberi nama seperti Arabia Terra (tanah Arabia) atau Amazonis Planitia (dataran Amazonian). Fitur gelap sebelumnya diduga sebagai laut, sehingga dinamai Mare Erythraeum, Mare Sirenum danAurorae Sinus. Fitur gelap terbesar yang dapat terlihat dari Bumi adalah Syrtis Major Planum.Lapisan es kutub utara yang permanen dinamai Planum Boreum, sementara lapisan es kutub selatan disebut Planum Australe.

Khatulistiwa Mars ditetapkan melalui rotasinya, namun letak meridian utamanya ditentukan dengan penetapan titik yang berubah-ubah seperti di Bumi; Mädler dan Beer memilih sebuah garis pada tahun 1830 untuk peta Mars pertama mereka. Setelah wahana Mariner 9 menyajikan citra Mars pada tahun 1972, kawah kecil (nantinya disebut Airy-0) yang terletak di Sinus Meridiani dipilih sebagai tempat bujur 0.0°.

Mars tidak punya samudra sehingga tidak ada ‘permukaan laut’. Ketinggian nol harus ditentukan, dan ini disebut areoidMars, yang sejalan dengan geoid. Ketinggian nol adalah ketinggian yang tekanan atmosfernya 610.5 Pa (6.105 mbar),atau sekitar 0,6% dari tekanan permukaan laut di Bumi (0.006 atm).Tekanan ini sesuai dengan titik tripel air. Praktiknya permukaan ditetapkan secara langsung melalui pengukuran gravitasi satelit.

Topografi tubrukan

Dikotomi topografi Mars cukuplah mengejutkan: dataran utara yang diratakan oleh aliran lava berkebalikan dengan dataran tinggi di selatan yang dipenuhi kawah akibat tubrukan pada masa lalu. Penelitian pada tahun 2008 telah menghasilkan bukti untuk postulat yang diusulkan pada tahun 1980 bahwa belahan utara Mars ditubruk oleh objek dengan ukuran 1/10 hingga 2/3nya Bulan. Jika ini benar, maka belahan utara Mars merupakan kawah tubrukan berukuran 10.600 x 8.500 km, menjadikannya kawah tubrukan terbesar di Tata Surya.

Di Mars terdapat sekitar 43.000 kawah dengan diameter 5 km atau lebih besar. Di antaranya yang terbesar adalah kawah Hellasfitur albedo terang yang terlihat dari Bumi. Massa Mars lebih kecil, sehingga kemungkinan objek bertubrukan dengan planet tersebut sekitar setengahnya Bumi. Planet ini terletak lebih dekat dengan sabuk asteroid, sehingga kemungkinan ditubruk oleh benda dari tempat tersebut meningkat. Mars juga lebih mungkin ditubruk oleh komet berperiode kecil, seperti yang berada di orbit Yupiter. Meskipun begitu, ada lebih sedikit kawah di Mars daripada Bulan karena atmosfer Mars melindunginya dari meteor-meteor kecil. Beberapa kawah memunyai morfologi yang menunjukkan bahwa tanah menjadi basah setelah meteor menubruk.

Situs tektonik

Gunung berapi perisai Olympus Mons (Gunung Olympus) merupakan gunung tertinggi di Tata Surya. Ketinggiannya mencapai 27 km, atau tiga kali lipat tinggi Gunung Everest yang hanya sekitar 8,8 km. Gunung yang sudah tidak aktif ini terletak di wilayah Tharsis, yang juga merupakan tempat berdirinya beberapa gunung berapi besar lainnya.

Lembah besar Valles Marineris (dalam bahasa Latin berarti Lembah Mariner, juga dikenal dengan nama Agathadaemon di peta kanal lama) memiliki panjang sekitar 4.000 km dan kedalaman hingga 7 km. Panjang Valles Marineris setara dengan panjang Eropa dan terbentang di 1/5sirkumferensia Mars. Jika dibandingkan, Grand Canyon di Bumi panjangnya hanya 446 km dan kedalamannya hanya 2 km. Valles Marineris terbentuk akibat pembengkakan wilayah Tharsis yang menyebabkan runtuhnya kerak di wilayah Valles Marineris. Lembah besar lainnya adalah Ma’adim Vallis (Ma’adim dalam bahasa Ibrani berarti Mars). Lembah ini memiliki panjang sebesar 700 km, lebar 20 km, dan kedalaman 2 km di beberapa tempat. Kemungkinan Ma’adin Vallis pernah dialiri air pada masa lalu.

Gua

Citra dari Thermal Emission Imaging System (THEMIS) di wahana Mars Odyssey telah menunjukkan tujuh pintu masuk gua di belakang gunung berapi Arsia Mons. Gua-gua tersebut, yang dinamai dari orang yang dicintai para penemunya, secara keseluruhan dijuluki “tujuh saudara perempuan.” Lebar pintu masuk gua tersebut berkisar antara 100 hingga 252 m. Gua-gua itu diyakini memiliki kedalaman antara 73 hingga 96 m. Cahaya tidak mencapai dasar sebagian besar gua, sehingga kemungkinan gua-gua tersebut bisa lebih dalam lagi. Gua “Dena” merupakan pengecualian; dasarnya dapat dilihat dan kedalamannya tercatat 130 m. Bagian dalam gua tersebut mungkin terlindung dari mikrometeoroid, radiasi ultraviolet, semburan matahari, dan partikel berenergi tinggi yang menghujani permukaan planet.

Atmosfer

Mars kehilangan magnetosfernya 4 miliar tahun yang lalu, sehingga angin matahari bisa berhubungan langsung dengan ionosfer, yang mengakibatkan penurunan kepadatan atmosfer dengan mengupas atom-atom dari lapisan luar. Dibandingkan dengan Bumi, atmosfer di Mars cukup tipis. Tekanan atmosfer di permukaan berkisar dari 30 Pa di Olympus Mons hingga lebih dari 1.155 Pa di Hellas Planitia, dengan rata-rata tekanan di permukaan 600 Pa. Tekanan permukaan di Mars pada saat terkuatnya sama dengan tekanan yang dapat ditemui di ketinggian 35 km di atas permukaan Bumi. Ketinggian skalaatmosfer Mars diperkirakan sekitar 10.8 km, yang lebih tinggi dari Bumi (6 km) karena gravitasi permukaan Mars hanya 38% persen-nya Bumi.

Atmosfer Mars terdiri dari 95% karbon dioksida, 3% nitrogen, 1,6% argon, serta mengandung jejak oksigen dan air. Atmosfernya relatif berdebu dan mengandung partikulat berdiameter 1,5 µm yang memberikan kenampakan kuning kecoklatan di langit Mars saat dilihat dari permukaan.

Metana telah dilacaktemu di atmosfer Mars dengan fraksi mol sekitar 30 ppb. Hidrokarbon tersebut muncul dalam plume luas, dan dilepas di wilayah yang berlainan. Di utara pada pertengahan musim panas, plume utama mengandung 19.000 metrik ton metana, dengan kekuatan sumber sekitar 0,6 kilogram per detik. Kemungkinan terdapat dua sumber lokal: yang pertama terpusat di dekat 30° U, 260° B, dan yang kedua di dekat 0°, 310° B. Diperkirakan Mars menghasilkan 270 ton metana per tahun.

Rentang waktu kehancuran metana diperkirakan paling lama empat tahun Bumi dan paling pendek 0,6 tahun Bumi. Pergantian cepat ini merupakan tanda-tanda adanya sumber gas aktif di Mars. Aktivitas vulkanik, tubrukan komet, dan keberadaan bentuk kehidupan mikrobial metanogenik diduga merupakan penyebabnya. Metana dapat pula dihasilkan oleh proses non-biologis yang disebut serpentinisasi yang melibatkan air, karbon dioksida, dan mineral olivin.

Iklim

Di antara semua planet di Tata Surya, Mars adalah planet yang musimnya paling mirip dengan Bumi. Hal ini diakibatkan oleh miripnya kemiringan sumbu kedua planet. Panjang musim di Mars itu sekitar dua kalinya Bumi karena jarak Mars yang lebih jauh dari Matahari, sehingga tahun di Mars lebih panjang (dua kalinya Bumi). Suhu permukaan Mars berkisar antara −87 °C (−125 °F) pada musim dingin di kutub hingga −5 °C (23.0 °F) pada musim panas. Luasnya rentang suhu ini diakibatkan oleh ketidakmampuan atmosfer yang tipis untuk menyimpan panas matahari, tekanan atmosfer yang rendah, dan thermal inertia tanah Mars yang rendah.

Jika Mars punya orbit yang seperti Bumi, musimnya akan mirip dengan Bumi karena sumbu rotasinya mirip dengan Bumi. Eksentrisitas orbit Mars yang relatif besar memberikan pengaruh yang besar. Mars berada di dekat perihelion saat musim panas di belahan selatan dan dingin di utara, dan di dekat aphelion saat musim dingin di belahan selatan adn musim panas di utara. Akibatnya, musim di belahan selatan lebih ekstrem dan musim di utara lebih ringan. Suhu musim panas di selatan lebih hangat 30 °C (54.0 °F) daripada suhu musim panas di utara.

Di Mars juga terdapat badai debu terbesar di Tata Surya. Badai-badai tersebut dapat bervariasi, dari badai di wilayah kecil, hingga badai raksasa yang berkecamuk di seluruh planet. Badai tersebut biasanya terjadi saat Mars berada dekat dengan Matahari. Badai debu ini juga meningkatkan suhu global.

Orbit dan rotasi

Rata-rata jarak Mars dari Matahari diperkirakan sekitar 230 juta km (1,5 SA) dan periode orbitalnya 687 hari (Bumi). Hari matahari (atau sol) di Mars itu sekitar 24 jam, 39 menit, dan 35,244 detik. Tahun Mars sama dengan 1,8809 tahun Bumi, atau 1 tahun, 320 hari, dan 18,2 jam.

Kemiringan sumbu Mars itu sekitar 25,19 derajat, yang mirip dengan kemiringan sumbu Bumi. Akibatnya musim di Mars mirip dengan Bumi, meskipun lamanya dua kali lipat karena tahunnya lebih lama. Saat ini orientasi kutub utara Mars dekat dengan bintang Deneb. Mars telah melewati perihelionnya pada April 2009 dan aphelionnya Maret2010. Perihelion berikutnya dilewati pada Maret 2011 dan aphelion selanjutnya Februari 2012.

Mars punya eksentrisitas orbit sekitar 0,09; di antara tujuh planet lainnya di Tata Surya, hanya Merkurius yang menunjukkan eksentrisitas yang besar. Pada masa lalu Mars punya orbit yang lebih bundar daripada sekarang. Sekitar 1,35 juta tahun Bumi yang lalu, Mars punya eksentrisitas sekitar 0,002, yang lebih rendah dari Bumi. Siklus eksentrisitas Mars itu sekitar 96.000 tahun Bumi jika dibandingkan dengan siklus 100.000 tahun planet Bumi. Mars juga punya siklus eksentrisitas yang lebih panjang dengan periode 2,2 juta tahun Bumi. Selama 35.000 tahun terakhir orbit Mars menjadi semakin eksentrik karena pengaruh gravitasi planet lain. Jarak terdekat antara Bumi dan Mars akan terus berkurang selama 25.000 tahun berikutnya.

Satelit alami

Mars punya dua satelit alami yang relatif kecil, yaitu Phobos dan Deimos. Penangkapan asteroid merupakan hipotesis yang didukung, namun asal usul satelit-satelit tersebut masih belum pasti.Kedua satelit ditemukan pada tahun 1877 oleh Asaph Hall, dan dinamai dari tokoh Phobos(panik/ketakutan) dan Deimos (teror) yang, dalam mitologi Yunani, menemani ayah mereka Ares dalam pertempuran. Ares juga dikenal sebagai Mars oleh orang Romawi.

Dari permukaan Mars, pergerakan Phobos dan Deimos tampak sangat berbeda dari Bulan di Bumi. Phobos terbit di barat, tenggelam di timur, dan terbit lagi dalam waktu 11 jam. Deimos, yang berada di luar orbit sinkron-yang membuat periode orbitalnya sama dengan periode rotasi planet-terbit di timur namun sangat pelan. Meskipun periode orbital Deimos itu 30 jam, satelit tersebut butuh 2,7 hari untuk tenggelam di Barat.

Orbit Phobos berada di bawah ketinggian sinkron, sehingga gaya pasang surut dari planet Mars secara bertahap merendahkan orbitnya. Dalam waktu 50 juta tahun satelit tersebut akan menabrak permukaan Mars atau pecah menjadi struktir cincin yang mengitari planet.

Asal usul kedua satelit tersebut tidak banyak diketahui. Albedo yang rendah dan komposisi kondrit karbon di kedua satelit tersebut dianggap mirip dengan asteroid, sehingga mendukung hipotesis penangkapan. Orbit Phobos yang tidak stabil menunjukkan penangkapan yang baru saja terjadi. Akan tetapi keduanya memunyai orbit bundar dan sangat dekat dengan khatulistiwa; hal-hal tersebut tidak biasa untuk objek yang ditangkap dan dinamika penangkapan yang diperlukan untuk itu kompleks. Pertumbuhan pada awal sejarah Mars juga mungkin, namun hipotesis tersebut tidak menjelaskan komposisi yang lebih mirip dengan asteroid daripada Mars sendiri.

Kemungkinan ketiga adalah keterlibatan objek ketiga atau semacam tubrukan. Bukti terbaru menunjukkan Phobos memunyai bagian dalam yang berpori. Selain itu, komposisinya terdiri dari filosilikat dan mineral lain yang diketahui berasal dari Mars. Bukti-bukti ini mendukung hipotesis bahwa Phobos terbentuk dari materi yang berasal dari tubrukan di Mars, yang mirip dengan hipotesis mengenai asal usul Bulan. Meski spektra VNIR satelit-satelit Mars mirip dengan asteroid, spektra inframerah thermal Phobos dilaporkan tidak konsisten dengan kondrit dari kelompok manapun.

Kehidupan

Berdasarkan pemahaman keterhunian planet, planet-planet yang punya air di permukaan merupakan planet yang layak huni. Untuk mencapai hal tersebut, orbit suatu planet harus berada di dalam zona layak huni. Di Tata Surya, zona tersebut terbentang dari setelah Venus hingga poros semi-mayor Mars. Selama perihelion Mars masuk ke wilayah ini, namun atmosfer tipisnya mencegah air bertahan untuk waktu yang lama. Bekas aliran air pada masa lalu menunjukkan potensi keterhunian Mars. Beberapa bukti terbaru memunculkan gagasan bahwa air di permukaan Mars akan terlalu berasam dan bergaram, sehingga sulit mendukung kehidupan.

Kurangnya magnetosfer dan tipisnya atmosfer Mars merupakan tantangan. Di permukaan planet ini tidak banyak terjadi pemindahan panas. Penyekatan terhadap angin matahari rendah, sementara tekanan atmosfer Mars tidak cukup untuk mempertahankan air dalam bentuk cair. Planet ini juga hampir, atau bahkan sepenuhnya, mati secara geologis; berakhirnya kegiatan vulkanik menyebabkan berhentinya pendaurulangan bahan kimia dan mineral antara permukaan dengan bagian dalam planet.

Bukti menunjukkan bahwa planet ini dahulu lebih layak huni daripada sekarang, namun masih belum diketahui apakah organisme hidup pernah ada atau tidak. Wahana Viking pada pertengahan tahun 1970an membawa percobaan yang dirancang untuk melacaktemu mikroorganisme di tanah Mars. Percobaan tersebut membuahkan hasil yang positif, termasuk peningkatan sementara CO2 pada saat pemaparan dengan air dan nutrien. Tanda-tanda kehidupan masih dipertentangkan oleh beberapa ilmuwan. Ilmuwan NASA Gilbert Levinmenegaskan bahwa Viking telah menemukan kehidupan. Analisis ulang data Viking telah menunjukkan bahwa percobaan Viking tidak cukup mutakhir untuk melacaktemu kehidupan. Percobaan tersebut bahkan bisa membunuh kehidupan. Percobaan yang dilakukan oleh wahana Phoenix menunjukkan bahwa tanah Mars punya pH yang sangat basa, serta mengandung magnesium, sodium, potasium, dan klorida. Nutrien tanah bisa mendukung kehidupan, namun kehidupan masih harus dilindungi dari sinar ultraviolet.

Di laboratorium Johnson Space Center, bentuk-bentuk yang luar biasa telah ditemukan di meteorit Mars ALH84001. Beberapa ilmuwan mengusulkan bahwa bentuk geometrik tersebut mungkin merupakan mikroba Mars yang telah terfosilisasi sebelum meteorit itu terlempar ke angkasa akibat tubrukan meteor 15 juta tahun yang lalu. Asal usul anorganik bentuk-bentuk tersebut juga telah diusulkan.

Metana dan formaldehida yang baru saja dilacaktemu oleh pengorbit Mars diklaim sebagai tanda-tanda kehidupan, karena senyawa kimia tersebut akan segera hilang di atmosfer Mars. Ada kemungkinan bahwa senyawa tersebut dihasilkan oleh aktivitas vulkanis dan geologis, seperti serpentinisasi.

Penjelajahan

Lusinan wahana antariksa telah dikirim ke Mars oleh Uni SovietAmerika Serikat, beberapa negara Eropa, dan Jepang, dengan tujuan untuk meneliti permukaan, iklim, dan geologi planet itu. Pada tahun 2008, biaya pengiriman barang dari permukaan Bumi ke Mars diperkirakan sebesar $309.000 per kilogram.

Wahana yang saat ini sedang aktif di Mars (2011) adalah Mars Reconnaissance Orbiter (sejak 2006), Mars Express (sejak 2003), Mars Odyssey 2001 (sejak 2001), dan Opportunity (sejak 2004). Misi yang baru saja selesai adalah Mars Global Surveyor (1997–2006) dan Spirit(2004–2010).

Kira-kira 2/3 wahana angkasa yang ditujukan ke Mars telah gagal dalam misinya. Pada abad ke-21 kegagalan lebih jarang terjadi.Kegagalan misi biasanya diakibatkan oleh masalah teknis, seperti kegagalan atau kehilangan komunikasi atau kesalahan rancangan, yang seringkali diakibatkan oleh kurangnya pendanaan atau ketidakcakapan pelaksana misi. Kegagalan tersebut telah menyebabkan munculnya satir yang menyalahkan “Segitiga Bermuda” di antara Bumi-Mars, “Kutukan” Mars, atau “Setan Galaktik Raksasa” (Great Galactic Ghoul) yang memakan wahana antariksa Mars. Misi-misi yang baru saja gagal contohnya adalah Beagle 2 (2003), Mars Climate Orbiter(1999), dan Mars 96 (1996).

Misi sebelumnya

Mars pertama kali dikitari pada 14-15 Juli 1965 oleh wahana Mariner 4. Pada 14 November 1971,Mariner 9 menjadi pesawat angkasa pertama yang mengorbit planet lain. Objek pertama yang berhasil mendarat di permukaan Mars adalah dua wahana SovietMars 2 pada 27 November dan Mars 3 pada 2 Desember 1971, namun keduanya kehilangan komunikasi setelah mendarat. Pada tahun 1975 NASA meluncurkan program Viking yang terdiri dari dua pengorbit, dan masing-masing punya pendarat; kedua pendarat berhasil mencapai permukaan pada tahun 1976. Viking 1 tetap beroperasi selama enam tahun, sementara Viking 2 selama tiga tahun. Pendarat Viking mengirimkan citra Mars yang berwarna, dan pengorbit memetakan permukaan dengan sangat baik hingga gambarnya masih digunakan hingga sekarang.

Wahana Soviet Phobos 1 dan 2 dikirim ke Mars pada tahun 1988 untuk meneliti Mars dan kedua bolannya. Phobos 1 kehilangan komunikasi dalam perjalanan ke Mars. Phobos 2 berhasil mencitrakan Mars dan Phobos, namun mengalami kegagalan saat akan melepas dua pendaratnya ke permukaan Phobos.

Setelah kegagalan pengorbit Mars Observer pada tahun 1992, misi Mars Global Surveyor berhasil mencapai orbit Mars pada tahun 1997. Misi ini berhasil dan telah menyelesaikan misi pemetaan utamanya pada awal 2001. NASA kehilangan kontak dengan wahana tersebut pada November 2006 pada saat program ketiganya yang diperpanjang. Mars Pathfinder, yang kendaraan penjelajah robotik Sojourner, mendarat di Ares Vallis pada musim panas tahun 1997 dan mengirim kembali banyak citra.

Wahana pendarat Phoenix tiba di wilayah kutub utara Mars pada 25 Mei 2008. Lengan robotiknya digunakan untuk menggali tanah Mars dan keberadaan es air telah dipastikan pada 20 Juni. Misi ditutup pada 10 November 2008 setelah kehilangan kontak.

Misi saat ini

Pengorbit Mars Odyssey milik NASA memasuki orbit Mars pada tahun 2001.Spektrometer Sinar Gamma Odyssey melacaktemu hidrogen yang diduga terkandung di es air Mars.

Misi Mars Express yang diluncurkan European Space Agency (ESA) mencapai Mars pada tahun 2003. Wahana tersebut membawa pendaratBeagle 2, yang mengalami kegagalan saat penurunan dan dinyatakan hilang pada Februari 2004. Pada awal tahun 2004, tim Planetary Fourier Spectrometer mengumumkan bahwa pengorbit telah melacaktemu metana di atmosfer Mars. ESA mengumumkan penemuan aurora di Mars pada Juni 2006.

Pada Januari, 2004, dua wahana penjelajah NASA, yaitu Spirit (MER-A) dan Opportunity (MER-B), mendarat di permukaan Mars. Keduanya telah mencapai atau melebihi tujuan misi mereka. Salah satu penemuan ilmiah yang paling penting adalah bukti keberadaan air pada masa lalu di tempat mendarat kedua wahana tersebut. Badai debu dan angin telah membersihkan panel surya kedua wahana, sehingga lama hidup mereka bertambah.

Pesawat angkasa Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA tiba di orbit Mars pada 10 Maret 2006 untuk melakukan penelitian ilmiah selama dua tahun. Pengorbit tersebut akan memetakan daratan dan cuaca Mars dengan tujuan untuk menemukan tempat pendaratan yang layak bagi misi pendarat berikutnya. MRO berhasil mencitrakan longsor di kutub utara Mars pada 3 Maret 2008.

Pesawat angkasa Dawn terbang melewati Mars pada Februari 2009 untuk mendapat bantuan gravitasi dalam perjalanannya menuju 4 Vesta danCeres.

Misi ke depan

Mars Science Laboratory, yang dinamai Curiosity, akan diluncurkan pada tahun 2011. Wahana tersebut lebih besar dan lebih maju dari Mars Exploration Rover, dengan kecepatan 90m/h. Wahana ini bisa menyimpulkan bahan batuan dari jarak 13 m.

Misi gabungan Rusia-Cina, yaitu Phobos-Grunt, akan diluncurkan pada tahun 2011 dengan tujuan mengambil contoh di Phobos. Pada tahun 2008, NASA mengumumkan misi robotikMAVEN yang akan diluncurkan pada tahun 2013 untuk menyediakan keterangan mengenai atmosfer Mars. ESA berencana meluncurkan wahana penjelajah pertamanya ke Mars pada tahun 2018; wahana penjelajah ExoMars mampu menggali tanah hingga 2 m untuk mencari molekul organik.

Misi Finlandia-Rusia, MetNet, akan mendaratkan beberapa kendaraan kecil di Mars untuk mendirikan jaringan pengamatan yang hendak meneliti struktur atmosfer, fisika, dan meteorologi Mars. Misi pendahulu yang menggunakan satu atau beberapa pendarat dijadwalkan diluncurkan pada tahun 2014.

Rencana misi berawak

ESA ingin mengirim manusia ke Mars antara tahun 2030 hingga 2035. Ini akan didahului oleh wahana-wahana yang lebih besar, yang dimulai dengan peluncuran ExoMars dan misi gabungan NASA-ESA untuk mengambil contoh.

Penjelajahan berawak merupakan tujuan jangka panjang visi penjelajahan angkasa Amerika Serikat yang diumumkan pada tahun 2004 oleh Presiden George W. Bush. Pesawat angkasa Orion akan digunakan untuk mengirim manusia ke Bulan pada tahun 2020 sebagai batu loncatan untuk ekspedisi Mars. Pada 28 September 2007, Michael D. Griffinmenyatakan bahwa NASA berharap dapat mengirim manusia ke Mars pada tahun 2037.

Mars Direct, misi berbiaya rendah yang diusulkan oleh Robert Zubrin (pendiri Mars Society), akan menggunakan roket kelas Saturn V seperti Space X Falcon X, atau Ares V, untuk melewati pembangunan orbital, pertemuan di orbit rendah Bumi, dan depot bahan bakar Bulan. Sementara itu proposal “Mars to Stay” mengusulkan untuk tidak langsung memulangkan astronot pertama.

Astronomi di Mars

Dengan adanya berbagai wahana pengorbit, pendarat, dan penjelajah, kita dapat mempelajari astronomi dari langit Mars. Meskipun Pohobs tampak seperti 1/3nya diameter sudut Bulan purnama di Bumi, Deimos terlihat seperti bintang, dan hanya sedikit lebih cerah dari Venus yang tampak dari langit Bumi.

Ada juga beberapa fenomena terkenal di Bumi yang juga ada di Mars, seperti meteor dan auroraTransit Bumi akan terjadi pada 10 November 2084. Transit Merkurius dan Venus juga berlangsung.

Pengamatan

Karena orbit Mars bersifat eksentrik, magnitudo tampaknya dapat beragam antara −3,0 hingga −1,4. Kecerahan minimumnya tercatat sebesar +1,6. Mars biasanya tampak kuning, jingga, atau kemerahan. Saat posisinya kurang tepat, Mars tidak akan terlihat karena tertutup oleh kesilauan Matahari. Saat waktu pengamatannya sedang bagus – yaitu pada interval 15 atau 17 tahun, dan selalu antara akhir Juli hingga akhir September – permukaan Mars dapat terlihat. Bahkan lapisan es kutubnya dapat terlihat meskipun pembesaran teleskopnya rendah.

Saat Mars mendekati oposisiperiode gerak maju mundur dimulai. Planet ini akan tampak bergerak ke arah sebaliknya. Periode ini berlangsung selama 72 hari, dan pada pertengahan gerak ini, Mars akan mencapai kecerahan maksimumnya.

Jarak terdekat

Relatif

Pada periode oposisi, Mars berada di jarak terdekat relatifnya dengan Bumi. Jarak tersebut beragam antara 54hingga 103 juta km karena orbit Mars yang elips. Oposisi Mars terakhir terjadi pada 29 Januari 2010, dan akan berlangsung lagi pada 3 Maret 2012 di jarak 100 juta km. Rata-rata waktu antara oposisi-oposisi Mars (periode sinodik) adalah 780 hari.

Absolut

Pada tanggal 27 Agustus 2003 pukul 9:51:13 UT, Mars berada di posisi terdekatnya dengan Bumi, yaitu 55.758.006 km (0,372719 SA). Saat itu Mars sedang berada satu hari dari oposisinya dan tiga hari dariperihelionnya. Peristiwa tersebut sebelumnya diperkirakan pernah terjadi pada 12 September 57.617 SM, dan selanjutnya akan berlangsung pada tahun 2287. Posisi ini hanya sedikit lebih dekat daripada posisi terdekat lainnya. Contohnya, jarak terdekat pada 22 Agustus 1924 tercatat sebesar 0,37285 SA, dan jarak terdekat pada 24 Agustus 2208 diperkirakan sebesar 0,37279 SA.

Di dunia maya, sebuah surel yang menyatakan bahwa Mars akan berada di posisi terdekatnya dan tampak sebesar Bulan telah menyebar. Surel tersebut hanyalah hoax.

Sejarah pengamatan

Keberadaan Mars di langit malam telah dicatat oleh astronom Mesir. Pada tahun 1534 SM, mereka telah memahami gerak maju mundur planet tersebut. Sementara itu astronom Babilonia telah mencatat posisi dan perilaku planet Mars. Pada abad ke-4 SM, Aristoteles mencatat bahwa Mars menghilang di belakang Bulan, sehingga menunjukkan bahwa planet tersebut lebih jauh. Sastra dari Cina Kuno memastikan bahwa Mars telah dikenal oleh astronom Cina sejak abad ke-4 SM. Pada abad ke-5 SM, teks astronomis IndiaSurya Siddhanta memperkirakan diameter Mars.

Selama abad ke-17, Tycho Brahe mengukur paralaks diurnal Mars, yang selanjutnya digunakan Johannes Kepler untuk menghitung jarak relatif ke planet tersebut. Saat teleskop sudah ada, paralaks diurnal Mars diukur kembali untuk menentukan jarak Matahari-Bumi. Hal tersebut pertama kali dilakukan oleh Giovanni Domenico Cassini pada tahun 1672. Pengukuran paralaks awal terhambat oleh kualitas alat pengukuran. Pada tahun 1610, Mars diamati oleh Galileo Galilei, yang merupakan orang pertama yang melihatnya lewat teleskop. Tokoh pertama yang menggambar peta Mars adalah astronom Belanda Christiaan Huygens.

Dalam budaya

Planet ini dinamai dari dewa perang RomawiMars. Di peradaban lain, Mars merupakan lambang kejantanan dan kemudaan. Lambang Mars juga digunakan sebagai lambang gender pria.

“Orang Mars cerdas”

Pada tahun 1877, astronom Italia Giovanni Schiaparelli menggunakan teleskop sepanjang 22 cm untuk membuat peta detail Mars pertama. Di peta tersebut terdapat fitur yang disebutnya canaliCanali adalah garis panjang di permukaan Mars. Istilah tersebut, yang berarti “saluran”, seringkali disalahterjemahkan menjadi “kanal”. Percival Lowell terpengaruh oleh pengamatan tersebut dan menerbitkan beberapa buku mengenai Mars dan kehidupannya. Ia menulis bahwa “kanal” tersebut dibangun oleh peradaban yang berusaha mengalirkan air dari lapisan es di kutub.Akibatnya, gagasan bahwa Mars dihuni oleh peradaban yang cerdas pun menyebar luas.

Saat ini, pemetaan beresolusi tinggi tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan kehidupan cerdas di permukaan Mars. “Canali” yang diamati pun terbukti hanya ilusi optik. Akan tetapi, spekulasi mengenai kehidupan cerdas di Mars terus berlanjut. Pada tahun 1898, H. G. Wells menulis novel The War of the Worlds, yang berkisah mengenai bangsa Mars yang berupaya melarikan diri dari planet mereka yang mati dengan menyerang Bumi. Adaptasi radionya dengan judul yang sama disiarkan pada tanggal 30 Oktober 1938 oleh Orson Welles, yang menimbulkan kepanikan karena banyak pendengar yang mengira itu sungguhan.

Contoh karya terkenal lainnya adalah The Martian Chronicles yang ditulis oleh Ray Bradbury. Novel tersebut bekisah mengenai pengelana manusia yang tanpa sengaja menghancurkan peradaban Mars. Selain itu, ada juga seri Barsoom karya Edgar Rice BurroughsOut of the Silent Planet (1938) oleh C. S. Lewis, dan kisah-kisah yang ditulis Robert A. Heinlein sebelum pertengahan tahun 1960-an.

Pengarang Jonathan Swift telah menyebut bulan-bulan Mars sekitar 150 tahun sebelum bulan-bulan itu ditemukan oleh Asaph Hall. Ia mendeskripsikan orbit bulan-bulan tersebut dengan cukup akurat dalam novelnya Gulliver’s Travels.

Setelah program Mariner dan Viking menunjukkan citra Mars yang kering dan tanpa kehidupan, spekulasi-spekulasi awal mulai ditinggalkan. Karya yang menggambarkan Mars secara nyata dan akurat pun berkembang. Di antaranya yang paling terkenal adalah trilogi Mars karya Kim Stanley Robinson.

Tema koloni Mars yang memperjuangkan kemerdekaannya merupakan plot utama dalam novel karya Greg Bear, dan juga film Total Recall serta serial televisi Babylon 5. Beberapa permainan video juga memakai elemen tersebut, seperti Red Faction dan Zone of the Enders.

Referensi

  1. Yeomans, Donald K. (2006-07-13). “HORIZONS System”. NASA JPL. Diakses pada 8 Agustus 2007. — Di situs, pergi ke “web interface” dan lalu pilih “Ephemeris Type: ELEMENTS”, “Target Body: Mars” and “Center: Sun”.
  2. “The MeanPlane (Invariable plane) of the Solar System passing through the barycenter”. 3 April 2009. Diakses pada 10 April 2009. (dihasilkan melalui Solex 10 ditulis oleh Aldo Vitagliano; lihat pula bidang Invariabel)
  3. Seidelmann, P. Kenneth (2007). “Report of the IAU/IAG Working Group on cartographic coordinates and rotational elements: 2006″Celestial Mechanics and Dynamical Astronomy 98 (3): 155–180.doi:10.1007/s10569-007-9072-y. Diakses pada 28 Agustus 2007.
  4. “Mars: Facts & Figures”. NASA. Diakses pada 6 Maret 2007.
  5. Williams, David R. (September 1, 2004).“Mars Fact Sheet”National Space Science Data Center. NASA. Diakses pada 24 Juni 2006.
  6. “The Lure of Hematite”Science@NASA. NASA. 28 Maret 2001. Diakses pada 24 Desember 2009.
  7. Yeager, Ashley (July 19, 2008). “Impact May Have Transformed Mars”. ScienceNews.org. Diakses pada 12 Agustus 2008.
  8. Sample, Ian, ”Cataclysmic impact created north-south divide on Mars“, Science @ guardian.co.uk, 26 Juni 2008. Diakses pada 12 Agustus 2008.
  9. Peplow, Mark. “How Mars got its rust”BioEd Online. MacMillan Publishers Ltd.. Diakses pada 10 Maret 2007.
  10. Christensen, Philip R. (June 27, 2003). “Morphology and Composition of the Surface of Mars: Mars Odyssey THEMIS Results”. Science 300 (5628): 2056–2061.doi:10.1126/science.1080885PMID 12791998.Bibcode2003Sci…300.2056C.
  11. Golombek, Matthew P. (June 27, 2003). “The Surface of Mars: Not Just Dust and Rocks”. Science 300 (5628): 2043–2044. doi:10.1126/science.1082927PMID12829771.
  12. Valentine, Theresa; Amde, Lishan (2006-11-09).“Magnetic Fields and Mars”. Mars Global Surveyor @ NASA. Diakses pada 17 Juli 2009.
  13. “New Map Provides More Evidence Mars Once Like Earth”. NASA/Goddard Space Flight Center. Diakses pada 17 Maret 2006.
  14. “Supergiant” Asteroid Shut Down Mars’s Magnetic FieldNational Geographic, 11 Mei 2009, diakses pada 22 Juli 2011
  15. Jacqué, Dave. ”APS X-rays reveal secrets of Mars’ core“, Argonne National Laboratory, 26 September 2003. Diakses pada 1 Juli 2006.
  16. Hartmann, William K.; Neukum, Gerhard (2001). “Cratering Chronology and the Evolution of Mars”. Space Science Reviews 96 (1/4): 165–194.doi:10.1023/A:1011945222010.Bibcode2001SSRv…96..165H.
  17. Zharkov, V. N. (1993). The role of Jupiter in the formation of planets. hlm. 7–17.Bibcode1993GMS….74….7Z.
  18. Lunine, Jonathan I.; Chambers, John; Morbidelli, Alessandro; Leshin, Laurie A. (2003). “The origin of water on Mars”. Icarus 165 (1): 1–8. doi:10.1016/S0019-1035(03)00172-6Bibcode2003Icar..165….1L.
  19. Barlow, N. G. (October 5–7, 1988). “Conditions on Early Mars: Constraints from the Cratering Record”. MEVTV Workshop on Early Tectonic and Volcanic Evolution of Mars. LPI Technical Report 89-04, Easton, Maryland: Lunar and Planetary Institute. 
  20. “Giant Asteroid Flattened Half of Mars, Studies Suggest”. Scientific American. Diakses pada 27 Juni 2008.
  21. Chang, Kenneth, ”Huge Meteor Strike Explains Mars’s Shape, Reports Say“, New York Times, 26 Juni 2008. Diakses pada 27 Juni 2008.
  22. Tanaka, K. L. (1986). “The Stratigraphy of Mars”. Journal of Geophysical Research 91 (B13): E139–E158.doi:10.1029/JB091iB13p0E139.Bibcode1986JGR….91..139T.
  23. Mitchell, Karl L.; Wilson, Lionel (2003). “Mars: recent geological activity : Mars: a geologically active planet”.Astronomy & Geophysics 44 (4): 4.16–4.20.doi:10.1046/j.1468-4004.2003.44416.x.Bibcode2003A&G….44d..16M.
  24. “Mars avalanche caught on camera”Discovery Channel. Discovery Communications. 4 Maret 2008. Diakses pada 4 Maret 2009.
  25. Martian soil ‘could support life’“, BBC News, 27 Juni 2008. Diakses pada 7 Agustus 2008.
  26. Chang, Alicia, ”Scientists: Salt in Mars soil not bad for life“, USA Today, 5 Agustus 2008. Diakses pada 7 Agustus 2008.
  27. “NASA Spacecraft Analyzing Martian Soil Data”. JPL. Diakses pada 5 Agustus 2008.
  28. “Dust Devil Etch-A-Sketch (ESP_013751_1115)”. NASA/JPL/University of Arizona. 2 Juli 2009. Diakses pada 1 Januari 2010.
  29. Schorghofer, Norbert; Aharonson, Oded; Khatiwala, Samar (December 2002). “Slope streaks on Mars: Correlations with surface properties and the potential role of water”. Geophysical Research Letters 29 (23): 41-1. doi:10.1029/2002GL015889.Bibcode2002GeoRL..29w..41S.
  30. Gánti, Tibor (October 2003). “Dark Dune Spots: Possible Biomarkers on Mars?”. Origins of Life and Evolution of the Biosphere 33 (4): 515–557.Bibcode2003OLEB…33..515G.
  31. “NASA, Mars: Facts & Figures”. Diakses pada 28 Januari 2010.
  32. Heldmann, Jennifer L. (May 7, 2005). “Formation of Martian gullies by the action of liquid water flowing under current Martian environmental conditions” (PDF).Journal of Geophysical Research 110 (E5): Eo5004.doi:10.1029/2004JE002261.Bibcode2005JGRE..11005004H. Diakses pada 17 September 2008. ’conditions such as now occur on Mars, outside of the temperature-pressure stability regime of liquid water’… ‘Liquid water is typically stable at the lowest elevations and at low latitudes on the planet because the atmospheric pressure is greater than the vapor pressureof water and surface temperatures in equatorial regions can reach 273 K for parts of the day [Haberle et al., 2001]‘
  33. Kostama, V.-P.; Kreslavsky, M. A.; Head, J. W. (June 3, 2006). “Recent high-latitude icy mantle in the northern plains of Mars: Characteristics and ages of emplacement”Geophysical Research Letters 33 (11): L11201. doi:10.1029/2006GL025946.Bibcode2006GeoRL..3311201K. Diakses pada 12 Agustus 2007. ’Martian high-latitude zones are covered with a smooth, layered ice-rich mantle’.
  34. Byrne, Shane; Ingersoll, Andrew P. (2003). “A Sublimation Model for Martian South Polar Ice Features”.Science 299 (5609): 1051–1053.doi:10.1126/science.1080148PMID 12586939.Bibcode2003Sci…299.1051B.
  35. “Mars’ South Pole Ice Deep and Wide”. NASA. 15 Maret 2007. Diakses pada 16 Maret 2007.
  36. “Water ice in crater at Martian north pole”. ESA. 28 Juli 2005. Diakses pada 19 Maret 2010.
  37. Whitehouse, David, ”Long history of water and Mars“,BBC News, 24 Januari 2004. Diakses pada 20 Maret 2010.
  38. “Scientists Discover Concealed Glaciers on Mars at Mid-Latitudes”. University of Texas at Austin. 20 November 2008. Diakses pada 19 Maret 2010.
  39. “NASA Spacecraft Confirms Martian Water, Mission Extended”. Science @ NASA. 31 Juli 2008. Diakses pada 1 Agustus 2008.
  40. “Mars”. Ensiklopedia Britannica. Diakses pada 19 Agustus 2011.
  41. Kerr, Richard A. (March 4, 2005). “Ice or Lava Sea on Mars? A Transatlantic Debate Erupts”. Science 307(5714): 1390–1391.doi:10.1126/science.307.5714.1390aPMID15746395.
  42. Jaeger, W. L. (September 21, 2007). “Athabasca Valles, Mars: A Lava-Draped Channel System”. Science 317(5845): 1709–1711. doi:10.1126/science.1143315.PMID 17885126Bibcode2007Sci…317.1709J.
  43. Murray, John B. (March 17, 2005). “Evidence from the Mars Express High Resolution Stereo Camera for a frozen sea close to Mars’ equator”. Nature 434 (703): 352–356. doi:10.1038/nature03379PMID15772653Bibcode2005Natur.434..352M.
  44. Craddock, R.A.; Howard, A.D. (2002). “The case for rainfall on a warm, wet early Mars”. Journal of Geophysical Research 107 (E11).doi:10.1029/2001JE001505.Bibcode2002JGRE..107.5111C.
  45. Malin, Michael C.; Edgett, KS (June 30, 2000). “Evidence for Recent Groundwater Seepage and Surface Runoff on Mars”. Science 288 (5475): 2330–2335.doi:10.1126/science.288.5475.2330PMID10875910Bibcode2000Sci…288.2330M.
  46.  “NASA Images Suggest Water Still Flows in Brief Spurts on Mars”. NASA. 6 Desember 2006. Diakses pada 6 Desember 2006.
  47. Water flowed recently on Mars“, BBC, 6 Desember 2006. Diakses pada 6 Desember 2006.
  48. Water May Still Flow on Mars, NASA Photo Suggests“, NASA, 6 Desember 2006. Diakses pada 30 April 2006.
  49. Lewis, K.W.; Aharonson, O. (2006). “Stratigraphic analysis of the distributary fan in Eberswalde crater using stereo imagery”. Journal of Geophysical Research 111(E06001). doi:10.1029/2005JE002558.Bibcode2006JGRE..11106001L.
  50. Matsubara, Y.; Howard, A.D.; Drummond, S.A. (2011). “Hydrology of early Mars: Lake basins”. Journal of Geophysical Research 116 (E04001).doi:10.1029/2010JE003739.Bibcode2011JGRE..11604001M.
  51. Head, J.W., et al. (1999). “Possible Ancient Oceans on Mars: Evidence from Mars Orbiter Laser Altimeter Data”.Science 286 (5447).doi:10.1126/science.286.5447.2134.Bibcode1999Sci…286.2134H.
  52. NASA (March 3, 2004). Mineral in Mars ‘Berries’ Adds to Water StoryRilis pers. Diakses pada 2006-06-13.
  53. McEwen, A. S. (September 21, 2007). “A Closer Look at Water-Related Geologic Activity on Mars”. Science 317(5845): 1706–1709. doi:10.1126/science.1143987.PMID 17885125Bibcode2007Sci…317.1706M.
  54. “Mars Exploration Rover Mission: Science”. NASA. 12 Juli 2007. Diakses pada 10 Januari 2010.
  55. Mellon, J. T.; Feldman, W. C.; Prettyman, T. H. (2003). “The presence and stability of ground ice in the southern hemisphere of Mars”. Icarus 169 (2): 324–340.doi:10.1016/j.icarus.2003.10.022.Bibcode2004Icar..169..324M.
  56. Mars Rovers Spot Water-Clue Mineral, Frost, Clouds“, NASA, 13 Desember 2004. Diakses pada 17 Maret 2006.
  57. Darling, David. “Mars, polar caps”Encyclopedia of Astrobiology, Astronomy, and Spaceflight. Diakses pada 26 Februari 2007.
  58. “MIRA’s Field Trips to the Stars Internet Education Program”. Mira.or. Diakses pada 26 Februari 2007.
  59. Carr, Michael H. (2003). “Oceans on Mars: An assessment of the observational evidence and possible fate”. Journal of Geophysical Research 108 (5042): 24.doi:10.1029/2002JE001963.Bibcode2003JGRE..108.5042C.
  60. Phillips, Tony. “Mars is Melting, Science at NASA”. Diakses pada 26 Februari 2007.
  61. Plaut, J. J (2007). “Subsurface Radar Sounding of the South Polar Layered Deposits of Mars”. Science 315(5821): 92. doi:10.1126/science.1139672PMID17363628Bibcode2007Sci…316…92P.
  62. Pelletier, J. D. (2004). “How do spiral troughs form on Mars?”. Geology 32 (4): 365–367.doi:10.1130/G20228.2.Bibcode2004Geo….32..365P.
  63. “Mars polar cap mystery solved”. ESA. 22 September 2008. Diakses pada 24 Desember 2009.
  64. NASA Findings Suggest Jets Bursting From Martian Ice Cap“, Jet Propulsion LaboratoryNASA, 16 Agustus 2006. Diakses pada 11 Agustus 2009.
  65. Kieffer, H. H. (2000). “Mars Polar Science 2000″(PDF). Diakses pada 6 September 2009.
  66. G. Portyankina, ed (2006). “Fourth Mars Polar Science Conference” (PDF). Diakses pada 11 Agustus 2009.
  67. Kieffer, Hugh H. (May 30, 2006). “CO2 jets formed by sublimation beneath translucent slab ice in Mars’ seasonal south polar ice cap”. Nature 442 (7104): 793–796. doi:10.1038/nature04945PMID 16915284.Bibcode2006Natur.442..793K.
  68. Sheehan, William. “Areographers”The Planet Mars: A History of Observation and Discovery. Diakses pada 13 Juni 2006.
  69. Planetary Names: Categories for Naming Features on Planets and Satellites
  70. “Viking and the Resources of Mars” (PDF). Humans to Mars: Fifty Years of Mission Planning, 1950–2000. Diakses pada 10 Maret 2007.
  71. Frommert, H.; Kronberg, C.. “Christiaan Huygens”. SEDS/Lunar and Planetary Lab. Diakses pada 10 Maret 2007.
  72. Archinal, B. A.; Caplinger, M. (Fall 2002). “Mars, the Meridian, and Mert: The Quest for Martian Longitude”.Abstract #P22D-06 (American Geophysical Union).Bibcode2002AGUFM.P22D..06A.
  73. NASA (April 19, 2007). “Mars Global Surveyor: MOLA MEGDRs”. geo.pds.nasa.gov. Diakses pada 24 Juni 2011. Mars Global Surveyor: MOLA MEGDRs
  74. Zeitler, W.; Ohlhof, T.; Ebner, H. (2000). “Recomputation of the global Mars control-point network”.Photogrammetric Engineering & Remote Sensing 66 (2): 155–161. Diakses pada 26 Desember 2009.
  75. Lunine, Cynthia J. (1999). Earth: evolution of a habitable world. Cambridge University Press. hlm. 183.ISBN 0-521-64423-2.
  76. Wright, Shawn (April 4, 2003). “Infrared Analyses of Small Impact Craters on Earth and Mars”. University of Pittsburgh. Diarsipkan dari yang asli pada 12 Juni 2007. Diakses pada 26 Februari 2007.
  77. “Mars Global Geography”Windows to the Universe. University Corporation for Atmospheric Research. 27 April 2001. Diakses pada 13 Juni 2006.
  78. Wetherill, G. W. (1999). “Problems Associated with Estimating the Relative Impact Rates on Mars and the Moon”. Earth, Moon, and Planets 9 (1–2): 227.doi:10.1007/BF00565406.Bibcode1974Moon….9..227W.
  79. Costard, Francois M. (1989). “The spatial distribution of volatiles in the Martian hydrolithosphere”. Earth, Moon, and Planets 45 (3): 265–290.doi:10.1007/BF00057747.Bibcode1989EM&P…45..265C.
  80. Glenday, Craig (2009). Guinness World Records. Random House, Inc.. hlm. 12. ISBN 0-553-59256-4.
  81. Chen, Junyong (2006). “Progress in technology for the 2005 height determination of Qomolangma Feng (Mt. Everest)”. Science in China Series D: Earth Sciences 49(5): 531–538. doi:10.1007/s11430-006-0531-1.
  82. Lucchitta, B. K.; Rosanova, C. E. (August 26, 2003).“Valles Marineris; The Grand Canyon of Mars”. USGS. Diakses pada 11 Maret 2007.
  83. Cushing, G. E.; Titus, T. N.; Wynne, J. J.; Christensen, P. R. (2007). “Themis Observes Possible Cave Skylights on Mars” (PDF). Lunar and Planetary Science XXXVIII. Diakses pada 2 Agustus 2007.
  84. NAU researchers find possible caves on Mars“,Inside NAUNorthern Arizona University, 28 Maret 2007. Diakses pada 28 Mei 2007.
  85. Researchers find possible caves on Mars“, Paul Rincon of BBC News, 17 Maret 2007. Diakses pada 28 Mei 2007.
  86. Philips, Tony (2001). “The Solar Wind at Mars”. Science@NASA. Diakses pada 8 Oktober 2006.
  87. Lundin, R (2004). “Solar Wind-Induced Atmospheric Erosion at Mars: First Results from ASPERA-3 on Mars Express”. Science 305 (5692): 1933–1936.doi:10.1126/science.1101860PMID 15448263.Bibcode2004Sci…305.1933L.
  88. Bolonkin, Alexander A. (2009). Artificial Environments on Mars. Berlin Heidelberg: Springer. hlm. 599–625.ISBN 978-3-642-03629-3.
  89. Atkinson, Nancy (2007-07-17). “The Mars Landing Approach: Getting Large Payloads to the Surface of the Red Planet”. Diakses pada 18 September 2007.
  90. Carr, Michael H. (2006). The surface of Mars6. Cambridge University Press. hlm. 16. ISBN 0-521-87201-4.
  91. Lemmon, M. T. (2004). “Atmospheric Imaging Results from Mars Rovers”. Science 306 (5702): 1753–1756.doi:10.1126/science.1104474PMID 15576613.Bibcode2004Sci…306.1753L.
  92. Formisano, V.; Atreya, S.; Encrenaz, T.; Ignatiev, N.; Giuranna, M. (2004). “Detection of Methane in the Atmosphere of Mars”. Science 306 (5702): 1758–1761.doi:10.1126/science.1101732PMID 15514118.Bibcode2004Sci…306.1758F.
  93. Mars Express confirms methane in the Martian atmosphere“, ESA, 30 Maret 2004. Diakses pada 17 Maret 2006.
  94. Mumma, Michael J. (February 20, 2009). “Strong Release of Methane on Mars in Northern Summer 2003″Science 323 (5917): 1041–1045.doi:10.1126/science.1165243PMID 19150811.Bibcode2009Sci…323.1041M.
  95. Hand, Eric, ”Plumes of methane identified on Mars“,Nature News, 21 Oktober 2008. Diakses pada 2 Agustus 2009.
  96. Krasnopolsky, Vladimir A. (February 2005). “Some problems related to the origin of methane on Mars”.Icarus 180 (2): 359–367.doi:10.1016/j.icarus.2005.10.015.Bibcode2006Icar..180..359K.
  97. Franck, Lefèvre (August 6, 2009). “Observed variations of methane on Mars unexplained by known atmospheric chemistry and physics”. Nature 460 (7256): 720–723.doi:10.1038/nature08228PMID 19661912.Bibcode2009Natur.460..720L.
  98. Oze, C.; Sharma, M. (2005). “Have olivine, will gas: Serpentinization and the abiogenic production of methane on Mars”. Geophysical Research Letters 32(10): L10203. doi:10.1029/2005GL022691.Bibcode2005GeoRL..3210203O.
  99. “Mars’ desert surface…”MGCM Press release. NASA. Diakses pada 25 Februari 2007.
  100. Goodman, Jason C (September 22, 1997). “The Past, Present, and Possible Future of Martian Climate”MIT. Diakses pada 26 Februari 2007.[pranala nonaktif]
  101. Philips, Tony (July 16, 2001). “Planet Gobbling Dust Storms”Science @ NASA. Diakses pada 7 Juni 2006.
  102. Barlow, Nadine G. (2008). Mars: an introduction to its interior, surface and atmosphere. Cambridge planetary science. 8. Cambridge University Press. hlm. 21. ISBN 0-521-85226-9.
  103. “Mars 2009/2010″. Students for the Exploration and Development of Space (SEDS). 6 Mei 2009. Diakses pada 28 Desember 2007.
  104. “Mars’ Orbital eccentricity over time”Solex. Universita’ degli Studi di Napoli Federico II. 18 Desember 2003. Diakses pada 20 Juli 2007.
  105. Meeus, Jean (March 2003). “When Was Mars Last This Close?”. International Planetarium Society. Diakses pada 18 Januari 2008.
  106. Baalke, Ron (August 22, 2003). “Mars Makes Closest Approach In Nearly 60,000 Years”. meteorite-list. Diakses pada 18 Januari 2008.
  107. “Close Inspection for Phobos”ESA website. Diakses pada 13 Juni 2006.
  108. “Ares Attendants: Deimos & Phobos”Greek Mythology. Diakses pada 13 Juni 2006.
  109. Hunt, G. E.; Michael, W. H.; Pascu, D.; Veverka, J.; Wilkins, G. A.; Woolfson, M. (1978). “The Martian satellites—100 years on”. Quarterly Journal of the Royal Astronomical Society, Quarterly Journal 19: 90–109.Bibcode1978QJRAS..19…90H.
  110. Arnett, Bill (November 20, 2004). “Phobos”.nineplanets. Diakses pada 13 Juni 2006.
  111. Ellis, Scott. “Geological History: Moons of Mars”. CalSpace. Diarsipkan dari yang asli pada 17 Mei 2007. Diakses pada 2 Agustus 2007.
  112. Andert, T. P. (May 7, 2010). “Precise mass determination and the nature of Phobos”. Geophysical Research Letters 37 (L09202): L09202.doi:10.1029/2009GL041829.Bibcode2010GeoRL..3709202A.
  113. Giuranna, M.; Roush, T. L.; Duxbury, T.; Hogan, R. C.; Geminale, A.; Formisano, V. (2010). “Compositional Interpretation of PFS/MEx and TES/MGS Thermal Infrared Spectra of Phobos“. European Planetary Science Congress Abstracts, Vol. 5. Diakses pada 2010-10-01. 
  114. “Mars Moon Phobos Likely Forged by Catastrophic Blast”Space.com web site. 27 September 2010. Diakses pada 1 Oktober 2010.
  115. Nowack, Robert L.. “Estimated Habitable Zone for the Solar System”. Department of Earth and Atmospheric Sciences at Purdue University. Diakses pada 10 April 2009.
  116. Briggs, Helen, ”Early Mars ‘too salty’ for life“, BBC News, 15 Februari 2008. Diakses pada 16 Februari 2008.
  117. Hannsson, Anders (1997). Mars and the Development of Life. Wiley. ISBN 0-471-96606-1.
  118. New Analysis of Viking Mission Results Indicates Presence of Life on Mars“, Physorg.com, 7 Januari 2007. Diakses pada 2 Maret 2007.
  119. “Phoenix Returns Treasure Trove for Science”. NASA/JPL. 6 Juni 2008. Diakses pada 27 Juni 2008.
  120. Bluck, John (July 5, 2005). “NASA Field-Tests the First System Designed to Drill for Subsurface Martian Life”. NASA. Diakses pada 2 Januari 2010.
  121. Golden, D. C. (2004). “Evidence for exclusively inorganic formation of magnetite in Martian meteorite ALH84001″American Mineralogist 89 (5–6): 681–695. Diakses pada 25 Desember 2010.
  122. Krasnopolsky, Vladimir A.; Maillard, Jean-Pierre; Owen, Tobias C. (2004). “Detection of methane in the Martian atmosphere: evidence for life?”. Icarus 172 (2): 537–547.doi:10.1016/j.icarus.2004.07.004.Bibcode2004Icar..172..537K.
  123. “Formaldehyde claim inflames Martian debate”, 25 Februari 2005.
  124. Dinerman, Taylor (September 27, 2004). “Is the Great Galactic Ghoul losing his appetite?”The space review. Diakses pada 27 Maret 2007.
  125. Living in Space“. Mitchell, Cary L.; Purdue University.The Universe. No. 307, season 2008–09.
  126. “Mariner 9: Overview”. NASA.
  127. “Other Mars Missions”Journey through the galaxy. Diakses pada 13 Juni 2006.
  128. Sagdeev, R. Z.; Zakharov, A. V. (October 19, 1989). “Brief history of the Phobos mission”. Nature 341 (6243): 81–585. doi:10.1038/341581a0.Bibcode1989Natur.341..581S.
  129. Mars Global Surveyor“, CNN- Destination Mars. Diakses pada 13 Juni 2006.
  130. “Mars Pulls Phoenix In”University of Arizona Phoenix mission Website. Diakses pada 25 Mei 2008.
  131. “Phoenix: The Search for Water”NASA website. Diakses pada 3 Maret 2007.
  132. “Frozen Water Confirmed on Mars”. UANews.org. Diakses pada 24 Agustus 2008.
  133. Amos, Jonathan, ”NASA Mars Mission declared dead“, BBC, 10 November 2008. Diakses pada 10 November 2008.
  134. “NASA’s Mars Odyssey Shifting Orbit for Extended Mission”. NASA. 9 Oktober 2008. Diakses pada 15 November 2008.
  135. Britt, Robert (March 14, 2003). “Odyssey Spacecraft Generates New Mars Mysteries”Space.com. Diarsipkan dari yang asli pada 15 Maret 2006. Diakses pada 13 Juni 2006.
  136. ESA Media Relations Division. ”UK and ESA announce Beagle 2 inquiry“, ESA News, 11 Februari 2004. Diakses pada 28 April 2011.
  137. Bertaux, Jean-Loup (June 9, 2005). “Discovery of an aurora on Mars”. Nature 435 (7043): 790.doi:10.1038/nature03603PMID 15944698.Bibcode2005Natur.435..790B.
  138. “Mars Exploration Rovers- Science”MER website. NASA. Diakses pada 13 Juni 2006.
  139. Photo shows avalanche on Mars“, CNN. Diakses pada 4 Maret 2008.
  140. Agle, D. C. (February 12, 2009). “NASA Spacecraft Falling For Mars”. NASA/JPL. Diakses pada 27 Desember 2009.
  141. “Mars Science Laboratory”MSL website. NASA. Diakses pada 3 Maret 2007.
  142. “NASA Selects ‘MAVEN’ Mission to Study Mars Atmosphere”. Nasa. Diakses pada 20 September 2009.
  143. Rincon, Paul, ”European Mars launch pushed back“,BBC News, 10 November 2006. Diakses pada 10 Oktober 2006.
  144. “Introduction to the MetNet Mars Mission”. Finnish Meteorological Institute. Diakses pada 28 Agustus 2008.
  145. “The MetNet Mars Precursor Mission”. Finnish Meteorological Institute. Diakses pada 28 Agustus 2008.
  146. “Liftoff for Aurora: Europe’s first steps to Mars, the Moon and beyond”. 11 Oktober 2002. Diakses pada 3 Maret 2007.
  147. “The ESA-NASA ExoMars programme 2016–2018—an overview”. European Space Agency. 12 Desember 2009. Diakses pada 30 Desember 2009.
  148. “Mars Sample Return”. European Space Agency. 8 Desember 2009. Diakses pada 30 Desember 2009.
  149. Britt, Robert. “When do we get to Mars?”Space.com FAQ: Bush’s New Space Vision. Diarsipkan dari yang asli pada 9 Februari 2006. Diakses pada 13 Juni 2006.
  150. NASA aims to put man on Mars by 2037“. (Bad link)
  151. “The Mars Homestead Project—Arrive, Survive, & Thrive!”. Marshome.org. Diakses pada 20 September 2009.
  152. “Deimos”Planetary Societies’s Explore the Cosmos. Diakses pada 13 Juni 2006.
  153. Meeus, J.; Goffin, E. (1983). “Transits of Earth as seen from Mars”. Journal of the British Astronomical Association 93 (3): 120–123.Bibcode1983JBAA…93..120M.
  154. Bell, J. F., III (July 7, 2005). “Solar eclipses of Phobos and Deimos observed from the surface of Mars”. Nature436 (7047): 55–57. doi:10.1038/nature03437PMID16001060Bibcode2005Natur.436…55B.
  155. Staff (March 17, 2004). “Martian Moons Block Sun In Unique Eclipse Images From Another Planet”.SpaceDaily. Diakses pada 13 Februari 2010.
  156. Mallama, A. (2007). “The magnitude and albedo of Mars”. Icarus 192 (2): 404–416.doi:10.1016/j.icarus.2007.07.011.Bibcode2007Icar..192..404M.
  157. Lloyd, John (2006). The QI Book of General Ignorance. Britain: Faber and Faber Limited. hlm. 102, 299. ISBN 978-0-571-24139-2.
  158. Peck, Akkana. “Mars Observing FAQ”Shallow Sky. Diakses pada 15 Juni 2006.
  159. Zeilik, Michael (2002). Astronomy: the Evolving Universe (edisi ke-9th). Cambridge University Press. hlm. 14. ISBN 0-521-80090-0.
  160. Jacques Laskar (August 14, 2003). “Primer on Mars oppositions”. IMCCE, Paris Observatory. Diakses pada 1 Oktober 2010. (Solex results)
  161. Close Encounter: Mars at Opposition“, NASA, 3 November 2005. Diakses pada 19 Maret 2010.
  162. Sheehan, William (February 2, 1997). “Appendix 1: Oppositions of Mars, 1901—2035″The Planet Mars: A History of Observation and Discovery. University of Arizona Press. Diakses pada 30 Januari 2010.
  163. Astropro 3000-year Sun-Mars Opposition Tables
  164. Rao, Joe (August 22, 2003). “NightSky Friday—Mars and Earth: The Top 10 Close Passes Since 3000 B.C.”Space.com. Diakses pada 13 Juni 2006.[pranala nonaktif]
  165. Mikkelson, Barbara and David P.. “Mars Spectacular”. Snopes.com. Diakses pada 17 September 2011.
  166. Novakovic, B. (2008). “Senenmut: An Ancient Egyptian Astronomer”. Publications of the Astronomical Observatory of Belgrade 85: 19–23.Bibcode2008POBeo..85…19N.
  167. North, John David (2008). Cosmos: an illustrated history of astronomy and cosmology. University of Chicago Press. hlm. 48–52. ISBN 0-226-59441-6.
  168. Swerdlow, Noel M. (1998). The Babylonian theory of the planets. Princeton University Press. hlm. 34–72. ISBN 0-691-01196-6.
  169. Poor, Charles Lane (1908). The solar system: a study of recent observations17. G. P. Putnam’s sons. hlm. 193.
  170. Needham, Joseph; Ronan, Colin A. (1985). The Shorter Science and Civilisation in China: An Abridgement of Joseph Needham’s Original Text2 (edisi ke-3rd). Cambridge University Press. hlm. 187. ISBN 0-521-31536-0.
  171. Thompson, Richard (1997). “Planetary Diameters in the Surya-Siddhanta”Journal of Scientific Exploration 11(2): 193–200 [193–6]. Diakses pada 13 Maret 2010.
  172. Taton, Reni (2003). Reni Taton, Curtis Wilson and Michael Hoskin. ed. Planetary Astronomy from the Renaissance to the Rise of Astrophysics, Part A, Tycho Brahe to Newton. Cambridge University Press. hlm. 109.ISBN 0-521-54205-7.
  173. Hirshfeld, Alan (2001). Parallax: the race to measure the cosmos. Macmillan. hlm. 60–61. ISBN 0-7167-3711-6.
  174. Peters, W. T. (1984). “The Appearance of Venus and Mars in 1610″. Journal of the History of Astronomy 15 (3): 211–214. Bibcode1984JHA….15..211P.
  175. Sheehan, William (1996). “Chapter 2: Pioneers“. The Planet Mars: A History of Observation and Discovery.Tucson: University of Arizona. Retrieved 2010-01-16.
  176. Snyder, Dave (May 2001). “An Observational History of Mars”. Diakses pada 26 Februari 2007.
  177. Sagan, Carl (1980). Cosmos. New York, USA: Random House. hlm. 106. ISBN 0-394-50294-9.
  178. Basalla, George (2006). Civilized Life in the Universe: Scientists on Intelligent Extraterrestrials. Oxford University Press US. hlm. 67–88. ISBN 0-19-517181-0.
  179. Guthke, Karl S. (1990). The Last Frontier: Imagining Other Worlds from the Copernican Revolution to Modern Fiction. Translated by Helen Atkins. Cornell University Press. pp. 355-6. ISBN 0-8014-1680-9.
  180. “Percivel Lowell’s Canals”. Diakses pada 1 Maret 2007.
  181. Lubertozzi, Alex; Holmsten, Brian (2003). The war of the worlds: Mars’ invasion of earth, inciting panic and inspiring terror from H.G. Wells to Orson Welles and beyond. Sourcebooks, Inc.. hlm. 3–31. ISBN 1-57071-985-3.
  182. Schwartz, Sanford (2009). C. S. Lewis on the Final Frontier: Science and the Supernatural in the Space Trilogy. Oxford University Press US. hlm. 19–20. ISBN 0-19-537472-X.
  183. Buker, Derek M. (2002). The science fiction and fantasy readers’ advisory: the librarian’s guide to cyborgs, aliens, and sorcerers. ALA readers’ advisory series. ALA Editions. hlm. 26. ISBN 0-8389-0831-4
  184. Darling, David. “Swift, Jonathan and the moons of Mars”. Diakses pada 1 Maret 2007.
  185. Miles, Kathy; Peters II, Charles F.. “Unmasking the Face”. StarrySkies.com. Diakses pada 1 Maret 2007.

Leave a Reply

Terhubung dengan:

Your email address will not be published. Required fields are marked *