Aktivasi Otak Tengah atau Aktivasi Otak Reptil?

oleh Ignatius Yordan

Otak manusia merupakan organ yang amat rumit. Ratusan juta neuron setiap saat menghantarkan dan menangkap impuls, yang merupakan rangsangan dari dunia luar yang menakjubkan: cahaya asa yang memantulkan pemandangan mahsyur di depan mata; suara deru yang menggetarkan telinga; bau busuk yang menyengat hidung; semua diterima oleh neuron sensoris sebagai impuls-impuls listrik. Impuls melesat dengan kecepatan tinggi, lalu otak mengirim tanggapannya dalam bentuk perintah terhadap organ tertentu. Sementara itu, simponi yang indah antara sirkuit otak dan genetik mengalun dengan indah dan harmonis, membentuk segala macam pribadi dan perilaku.

Adalah suatu hal yang menakjubkan: dari organ bervolume sekitar 1350 cc ini, segala macam emosi; tindakan; kegalauan; kegundahan; kesenangan; kesusahan; kebencian; keinginan berkuasa; muncul. Kemahsyuran dan kerumitan ini diukir secara bertahap selama jutaan tahun melalui proses persaingan dan pemilahan antarspesies yang tengah berusaha bertahan hidup di tengah kerasnya keadaan lingkungan.

Dalam kemahsyuran dan kerumitannya, emosi yang dihasilkan oleh sirkuit dan hormon otak juga menghasilkan hal-hal yang nyeleneh. Rangsangan bahwa “anak Anda bisa genius cepat dengan diaktifkan otak tengahnya, biaya 3,5 juta” menghasilkan tanggapan “SAYA MAU!” Padahal, seperti yang dikatakan Carl Sagan, otak tidak hanya mengumpulkan ingatan, tetapi juga membandingkan, menggabungkan, menganalisis, dan menghasilkan abstraksi. Dengan itu, kita dapat berpikir kritis dan logis. Sayangnya dengan mudahnya kita rendahkan dan jatuhkan kemahsyuran otak dengan percaya begitu saja tanpa melihat fakta yang ada.


Memang otak manusia seringkali memberikan tanggapan untuk berlindung dalam zona kenyamanan. Bukankah iming-iming tersebut adalah sesuatu yang sangat luar biasa jika benar? Hanya dengan senam otak selama dua hari, “otak tengah” anak Anda langsung aktif, anak Anda bisa melihat dengan mata tertutup karena (katanya) otak tengah yang aktif bisa menangkap gelombang layaknya lumba-lumba. Selanjutnya, dalam bahasa pemasaran mereka, anak Anda langsung jadi genius layaknya Einstein atau Hawking.

Kita akan lihat, bahwa proses selama jutaan tahun, yang memunahkan spesies yang lemah dan membiarkan spesies yang mampu bertahan tetap ada dan menyebar gennya, akan memberitahu kita, bahwa yang disebut “aktivasi otak tengah” itu hanyalah omong kosong belaka. Sejarah evolusioner akan dan telah membantah penipuan aktivasi otak tengah yang tengah beredar luas di masyarakat saat ini.
Dokter dan ilmuwan neurosains Paul MacLean memodelkan evolusi otak dalam konsep yang disebut “otak tritunggal” (triune brain). Menurutnya, otak manusia itu seperti “tiga otak dalam satu otak.” MacLean membagi otak menjadi r-complex, limbic system, dan neocortex. Setiap lapisan merupakan hasil evolusi bertahap; buah tanggapan terhadap kebutuhan evolusioner. Carl Sagan menambahkan, “Otak berevolusi dari dalam ke luar. Setiap strukturnya melambangkan tahap-tahap yang telah dilaluinya.”

R-complex atau reptilian complex adalah bagian otak yang paling “tua”, yang diperkirakan berevolusi sekitar ratusan juta tahun yang lalu dalam nenek moyang reptil kita. Menurut MacLean, bagian ini mengatur keagresifan, keteritorialan, keritualan, dan pendirian hierarki sosial. Maka, pembagian wilayah, sifat ritual kita yang membuat kita kadang sulit menerima perubahan, keberadaan hierarki sosial, semuanya sebenarnya merupakan penunjukkan sisi reptil kita.

Di sekitar r-complex adalah limbic system atau otak mamalia yang berevolusi sekitar seratus lima puluh juta tahun yang lalu dalam nenek moyang mamalia kita yang masih belum menjadi primata. Segala emosi kita: rasa sedih, gundah gulana, galau, murka, senang, susah, dihasilkan di tempat ini. Contohnya, di limbic system, terdapat kelenjar yang disebut amygdala, yang sangat berkaitan dengan rasa takut dan agresif.

Selanjutnya otak nenek moyang kita terus berevolusi secara bertahap. Akhirnya, jutaan tahun yang lalu, di otak nenek moyang kita sudah ada neocortex, yang merupakan pusat segala kesadaran dan kecerdasan kita. Fungsi yang mengatur bahasa, tulisan, intuisi, analisis, pengenalan pola, logika, menghuni daerah neocortex. Misalnya, daerah prefrontal cortex membuat kita mampu merencanakan masa depan.

Inilah sejarah evolusi otak kita yang telah terukir dalam proses yang amat sangat panjang. Sejarah ini, asal kita mau mencari, memahami, menilik, dan memeriksanya, telah berkali-kali berusaha memberitahu kita, bahwa “aktivasi otak tengah” itu hanyalah omong kosong. Nenek moyang manusia sama sekali tidak pernah punya kemampuan melihat dengan mata tertutup. Maka, pengaktifan bagaimana, sementara kemampuan itu saja sama sekali tidak terlacak dalam sejarah evolusi kita?

Sejarah tersebut juga sudah mewanti-wanti kita. Otak tengah yang dikatakan bisa diaktifkan merupakan bagian dari r-complex. Seperti yang sudah tertulis di atas, bagian ini mengandung fungsi-fungsi reptil. Maka jika Anda mau mengaktifkan otak tengah, Anda mencoba mengaktifkan otak reptil! Anda berupaya mengaktifkan keritualan, keagresifan, kewilayahan, sementara seluruh otak itu sudah aktif, dan uang Anda sebesar 3,5 juta terbuang dengan percuma!

Selain itu, r-complex sama sekali tidak mengatur kemampuan untuk melihat dengan mata tertutup. Kecerdasan, kebaikan hati, kepatuhan dll, yang dijanjikan oleh badan penyelenggara aktivasi otak tengah, dapat ditemui di neocortex, dan bukan di r-complex! Aneh bukan? Katanya mau meningkatkan kecerdasan dan kepatuhan, tapi yang diaktifkan kok malah bagian yang salah?

Maka secara evolusioner sudah sangat jelas bahwa aktivasi otak tengah itu hanyalah kebohongan belaka. Hiperbola yang diiming-imingi badan penyelenggara aktivasi, seperti menjadi genius, berperangai baik, patuh kepada orang tua, dll, hanyalah omong kosong belaka. “Sains” yang diseret-seret oleh badan tersebut nyatanya tak lebih dari ilmu semu yang sama sekali tidak pernah terbukti.

Otak kita telah berevolusi dalam rentang waktu yang sangat lama. Kita telah berhasil memperoleh kecerdasan, kemampuan analisis, namun kenapa kita tidak menggunakannya, terutama untuk hal seperti ini yang sebenarnya sangat mudah dibantah? Kenapa kita malah cenderung percaya begitu saja, atau malah memaksa diri percaya karena terbuai oleh mimpi? Otak manusia sudah aktif seratus persen. Yang belum aktif (secara metaforis) dalam masyarakat kita adalah pemikiran kritis dan ketertarikan terhadap sains. Jika Anda mau anak Anda cerdas, cukup “aktifkan” dua hal itu: ketertarikan terhadap ilmu agar sang anak selalu mendapat pengetahuan baru, dan pemikiran kritis supaya bisa memilah mana yang benar dan salah, mana yang bohong dan mana yang benar, termasuk mengritisi penipuan aktivasi otak tengah. Alunan keduanya akan terdengar sangat merdu, dan mengantar masyarakat kita ke jenjang pencapaian yang lebih tinggi.

“Jika Anda melek sains, dunia akan tampak begitu berbeda bagi Anda, dan pemahaman itu memperkuat Anda.” ~ Neil deGrasse Tyson.

Leave a Reply

Terhubung dengan:

Your email address will not be published. Required fields are marked *