Facebook Twitter Gplus E-mail
formats

Lukisan Mahakarya: Sebuah perspektif terhadap Sains

Published on December 5, 2012, by in Artikel.

oleh Thomas Adhi Nugroho Chaidir

Seringkali orang terengah-engah ketika melihat dan mengikuti perkembangan Sains. Ilmu Pengetahuan dianggap diliputi oleh hal-hal sulit, menjelimet yang tak mungkin dimengerti manusia biasa. Lihat saja betapa sulitnya pelajaran Fisika dan Matematika di SMA, betapa rumitnya sistem-sistem yang dijabarkan dalam pelajaran Sosiologi dan Ekonomi. Lihatlah bahwa seluruh Ilmu pengetahuan itu seakan-akan didesain untuk menyulitkan dan menyukarkan para siswa, bahkan untuk mengekang kreatifitas mereka. Ketika mereka dewasa, mereka pun kemudian melihat Sains secara sinis. Orang-orang pun tumbuh dengan perspeksi yang salah terhadap Sains. Hasilnya? Banyak sekali anggota masyarakat kita yang sudah berpendidikan sangat tinggi, namun tetap mempercayai hal-hal yang tidak memiliki bukti yang jelas. Dan lebih dari itu bahkan, mereka mendiskreditkan upaya ilmiah yang sebenarnya hasilnya mereka nikmati sehari-hari. Jadi sebenarnya ada apa yang salah?

Maka sebenarnya yang salah bukanlah orangnya, mereka tidak salah karena mereka adalah produk sistem yang salah. Di bumi pertiwi yang tercinta ini, para muda-mudi kita dimotivasi untuk meraih sesuatu yang sangat-sangat tinggi, dan namanya adalah nilai di sekolah. Ya, menurut mereka ilmu hanyalah sesuatu yang hanya perlu diperhatikan dan dipelajari karena dapat meningkatkan nilai di transkrip mereka, sehingga kemudian bisa memudahkan mereka mendapatkan pekerjaan. Padahal ilmu bukanlah itu, Sains bukanlah sekedar alat untuk mendapatkan kedudukan sosial yang lebih tinggi. Sains bukanlah sekedar sebuah pelajaran yang harus dilewati demi kelulusan. Tidak, Sains adalah lebih dari itu.

Sains adalah sebuah cara pandang, cara memandang dunia. Sebuah model yang kita pakai untuk membayangkan bagaimana dunia ini bekerja. Sains adalah sebuah lukisan, yang menggambarkan dunia seutuh-utuhnya. Seperti lukisan pada umumnya, ada berbagai macam jenis dan teknik penggambaran dalam sains. Ada yang menggambar dengan garis-garis yang tegas, akurasi yang sangat tinggi, inilah sains yang matematis, yang memberikan bentuk dan ruang kepada lukisan, inilah fisika, kimia, dan biometri. Ada sains yang kualitatif, dengan pemberian warna-warna yang indah, memberikan sebuah perspektif yang langsung bisa kita pahami dan kita alami, inilah biologi, psikologi, dan sosiologi.

Dan sebenarnya jika kita mencoba mengambil tilas balik, maka kita pun bisa mengalami perkembangan dari pola lukisan, dari seperti gambar anak-anak, dengan proporsi yang tidak beraturan, warna yang polos dan seragam, sedikit-demi sedikit, berubah menjadi fotorealistis, menyerupai aslinya, dan semakin menyerupai setiap harinya. Jika anda perhatikan lukisan ini, akan anda dapatkan daerah-daerah, goresan-goresan yang masih belum sempurna, disinilah tempat kita bisa berkarya, disinilah tempat para ilmuwan setiap harinya, dari seluruh dunia, menggoreskan kuas, menggariskan dengan pensil yang sangat akurat, agar pandangan kita semakin lama semakin akurat.

Sains ada sebagai lukisan, karena kita tidak bisa melihat secara langsung pemandangan yang ada, seperti melihat dari lubang kunci yang kecil, yang terlihat oleh kita dalam kehidupan sehari-hari sangatlah sedikit, tidak dapat menggambarkan apa yang sebenarnya. Sains bekerja dengan banyak teropong, meneropong sedikit demi sedikit, lalu mencoba menggambar detil yang ada, dari yang terlihat. Gambar yang awalnya adalah sekeping-sekeping, sekarang mulai dirangkai dan menyatu seperti sebuah puzzle yang mahabesar, bernama alam semesta ini, dan segala isinya. Terkadang rangkaian yang dibuat tidak cocok, terkadang goresan yang telah ditoreh harus dihapus, terkadang warna harus digradasi lebih jauh, dan setiap hari, proses inilah yang terus-menerus terjadi, sehingga garis-garis akan semakin tajam, dan warna-warna semakin tampak nyata.

Inilah Sains, dihadapan anda, terbuka, terurai bagaikan sebuah untaian penggambaran, semakin dekat anda tatapi, semakin banyak detil yang terlihat, dan semakin banyak detil yang dipahami, maka semakin mantaplah garis-garis pada gambaran besar yang ada. Inilah Sains, di tangan anda, menjadi sebuah peta yang tak tergantikan, untuk mengarungi dan menjalani hidup, di dalam kosmos yang terlampau besar ini.

formats

Diskusi Sains Menrva: Asal-usul Cinta dan Perilaku Seksual

Published on October 11, 2012, by in Lainnya.

Topik Pembahasan: Asal-usul Cinta dan Perilaku Seksual
Waktu: Jumat, 12 Oktober 2012
Pukul: 19:30-21:00
Tempat: Café Proklamasi, Jalan Proklamasi no. 41, Jakarta
Pembicara: Sabda P.S.

 

 

formats

Diskusi Sains Menrva: Otak, Gender, dan Seksualitas

Published on September 20, 2012, by in Lainnya.

Topik Pembahasan: Otak, Gender, dan Seksualitas
Waktu: Jumat, 21 September 2012
Pukul: 19:30-21:00
Tempat: Café Proklamasi, Jalan Proklamasi no. 41, Jakarta
Pembicara: dr. Ryu Hasan

Diskusi kali ini akan dibawakan oleh Ryu Hasan, seorang neurosurgeon yang telah sering kali mengisi diskusi sains Menrva Indonesia.

Beliau akan menjelaskan bagaimana otak manusia menuntun perilaku manusia secara evolusioner. Kita juga akan mendalami lebih lanjut berbagai topik bersangkutan seperti jenis kelamin, gender, dan orientasi seksual.

Silakan hadiri diskusi sains Jumat ini, yang tentu saja terbuka untuk umum dan bebas biaya. :)

formats

Podcast Menrva Ep. 3: Ada Apa Dengan Cinta?

Apa sih yang dimaksud dengan “cinta romantis”? Apa yang terjadi saat manusia jatuh cinta? Kenapa kita ingin terus bertemu orang yang kita sukai? Apa yang menyebabkan perasaan galau, kangen, dan sedih kalau orang tersebut tidak di samping kita? Apakah ada manusia yang tidak berbakat setia?

Pertanyaan-pertanyaan di atas bukanlah pertanyaan yang tidak bisa ditelusuri jawabannya, atau pun pertanyaan konyol yang hanya pantas ditanyakan ababil. Cinta adalah fenomena yang penting dalam kehidupan manusia. Jatuh cinta dapat menyebabkan manusia bahagia, patah semangat, bertengkar, bahkan saling membunuh!

Mengapa manusia jatuh cinta? Hormon apakah yang berperan saat kita mengalami berbagai gejala jatuh cinta? Dokter Ryu Hasan, seorang neurosurgeon ternama, dan Faisal Magrie, seorang psikolog klinis, berbincang-bincang mengenai cinta dalam episode kocak Podcast Menrva kali ini.

Klik link berikut dan klik PLAY:

http://menrvapodcast2.wordpress.com/2012/09/20/episode-3-ada-apa-dengan-cinta/

 

formats

Diskusi Sains Menrva: Evolusi Bahasa

Topik Pembahasan: Evolusi Bahasa
Waktu: Jumat, 7 September 2012
Pukul: 19:30-21:00
Tempat: Café Proklamasi, Jalan Proklamasi no. 41, Jakarta
Pembicara: Faisal Magrie

 

Dari sekian banyak mahluk hidup yang ada di bumi, manusia adalah mahluk hidup yang memiliki bentuk komunikasi yang kompleks yang disebut dengan Bahasa. Pada diskusi kali ini kita akan membahas bagaimana sains menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti “Bagaimana bahasa bisa terbentuk?” dan “Bagaimana pula bahasa itu bisa berkembang dan berubah hingga menjadi sangat beragam seperti sekarang ini?”

 

Bagi yang penasaran, silakan datang ke diskusi sains Menrva Jumat ini. Diskusi ini terbuka untuk umum dan bebas biaya :)

formats

Diskusi Sains: Brainwashing

Topik Pembahasan: Brainwashing
Waktu: Jumat, 3 Agustus 2012
Pukul: 19:30-21:00
Tempat: Café Proklamasi, Jalan Proklamasi no. 41, Jakarta
Pembicara: Ryu Hasan

Di Klab Sains minggu ini, dr. Ryu Hasan berbicara tentang sejarah dan metode brainwashing (pencucian otak). Sekarang diketahui bahwa pencucian otak menarget bagian otak yang dikenal sebagai nucleus accumbens (NAcc). NAcc memegang peranan penting dalam adiksi, agresi, rasa takut, juga ganjaran (reward) dan pleasure. Rasa takut dan repons terhadap reward dan pleasure inilah yang dieksploitasi dalam proses pencucian otak.
Seperti biasa, diskusi disambung dengan sesi tanya jawab yang seru.

formats

Episode 2: Gangguan Kejiwaan—Skizofrenia

Mungkin kalian sering melihat orang “gila” yang ngomong sendiri di jalanan. Sebenarnya apa sih masalah mereka? Apa sih yang sebetulnya yang kita maksud dengan “orang gila di jalanan”? Dan bagaimana sebaiknya kita menghadapi orang-orang yang seperti itu?

Nah, yang pernah nonton “A Beautiful Mind” mungkin familiar dengan nama John Nash, seorang matematikawan asal Amerika Serikat pemenang Nobel, yang juga pengidap skizofrenia.

Bintang tamu kami kali ini, Faisal Magrie, adalah peneliti di bidang psikologi sosial dan praktik mandiri di lembaga psikologi Asosiasi Berbagi. Faisal akan berbicara tentang skizofrenia (schizophrenia), gangguan kejiwaan yang memiliki tingkat prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia (3 sampai 5 dari 1000 orang!). Enjoy the discussion!

http://menrvapodcast2.wordpress.com/2012/07/22/episode-2-gangguan-kejiwaan-skizofrenia/

formats

Episode 1: Pengobatan Alternatif

Mijet-mijet jempol untuk hilangin sakit kepala sebenernya sama anehnya dengan mukul-mukul knalpot untuk benerin karburator mobil. Lalu kenapa releksologi laku dan main menjamur? Tamu baru kita kali ini, Keke Kendisan, ikut nimbrung bareng Virkill dan Difa seputar pengobatan Alternatif. Bagaimana orang justru makin parah justru karena terlalu bergantung pada pengobatan dan praktek kesehatan yang non-konvensional. Betapa banyak korban jatuh tanpa ada yang bisa dimintain pertanggungjawaban. Ini masalah serius; setidaknya lo perlu denger dan ikut peduli!

 

http://menrvapodcast2.wordpress.com/2012/07/22/episode-1-pengobatan-alternativ/

formats

Anak indigo

Published on July 19, 2012, by in Artikel, wikipedia.

Diterjemahkan oleh tim Menrva untuk Wikipedia

Anak indigo atau anak nila (bahasa Inggris: Indigo children) adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan anak yang diyakini memiliki kemampuan atau sifat yang spesial, tidak biasa, dan bahkan supranatural. Konsep ini merupakan ilmu semu[1] yang didasarkan dari gagasan Zaman Baru pada tahun 1970-an. Konsep ini mulai terkenal setelah diterbitkannya beberapa buku pada akhir tahun 1990-an dan dirilisnya beberapa film satu dasawarsa kemudian. Interpretasi mengenai indigo ada bermacam-macam: dari yang meyakini bahwa mereka adalah tahap evolusi manusia selanjutnya (yang bahkan mempunyai kemampuan paranormal seperti telepati) hingga yang menyebut anak indigo sebagai orang yang lebih empatik dan kreatif.

Meskipun tidak ada satu bukti penelitian pun yang membuktikan keberadaan anak indigo atau sifat mereka, fenomena ini menarik perhatian orang tua yang anaknya didiagnosis mengalami kesulitan belajar atau yang ingin anaknya spesial. Kaum skeptik memandangnya sebagai cara orang tua menghindari penanganan pediatrik atau diagnosis psikiatrik yang tepat. Daftar sifat yang dimiliki anak indigo juga dikritik karena terlalu umum sehingga dapat diterapkan untuk hampir semua orang (efek Forer). Fenomena indigo dituduh pula sebagai alat untuk menambang uang dari orang tua yang mudah ditipu.

 

Asal usul

Konsep anak indigo pertama kali dikemukakan oleh cenayang Nancy Ann Tappe pada tahun 1970-an. Pada tahun 1982, Tappe menerbitkan buku Understanding Your Life Through Color (Memahami Hidup Anda Melalui Warna)[2] yang menjelaskan bahwa semenjak pertengahan tahun 1960-an, ia mulai menyadari bahwa ada banyak anak yang lahir dengan aura “indigo”[3][4] (dalam publikasi lain Tappe juga mengatakan bahwa warna indigo atau nila berasal dari “warna kehidupan” anak yang ia dapatkan melalui sinestesia[5]). Gagasan ini kemudian dipopulerkan oleh buku yang berjudul The Indigo Children: The New Kids Have Arrived (Anak Indigo: Anak-anak Baru Telah Tiba) pada tahun 1998. Buku ini ditulis oleh Lee Carroll dan Jan Tober.[6] Pada tahun 2002, konferensi internasional untuk anak indigo yang dihadiri oleh kurang lebih 600 orang diadakan di Hawaii. Konferensi pada tahun-tahun berikutnya diadakan di Florida dan Oregon. Beberapa film bertajuk indigo juga telah dibuat, seperti Indigopada tahun 2003[7] yang disutradarai oleh James Twyman.[8] Film mengenai indigo juga dirilis di Rusia pada tahun 2008.[9]

Dalam sebuah artikel di Nova Religio pada tahun 2009, Sarah W. Whedon pada tahun 2009 mengusulkan bahwa konstruksi sosial anak indigo merupakan tanggapan terhadap “krisis anak-anak Amerika” yang tampak dalam bentuk peningkatan kekerasan anak-anak dan diagnosis attention deficit disorder dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Whedon meyakini bahwa orang tua melabeli anak mereka sebagai “indigo” sebagai penjelasan alternatif bagi ADD dan ADHD anak mereka.[3]

Karakteristik

Beberapa ciri anak indigo adalah:

  • Empatik, penuh rasa ingin tahu, berkeinginan kuat, independen, dan sering dianggap aneh oleh teman dan keluarga
  • Mengenal dirinya dan memiliki tujuan yang jelas
  • Memiliki spiritualitas di bawah sadar yang kuat semenjak kecil
  • Meyakini bahwa dirinya layak untuk berada di dunia.

Beberapa ciri lain adalah:[4][6]

  • Memiliki IQ yang tinggi, mempunyai kemampuan intuitif, dan
  • Sering menolak mengikuti aturan atau petunjuk.

Menurut Tober dan Carroll, anak indigo mungkin tidak memiliki performa yang baik di sekolah karena menolak mengikuti aturan, lebih pintar (atau lebih matang secara spiritual) dari guru mereka, dan kurang tanggap terhadap disiplin yang didasarkan kepada rasa bersalah, takut atau manipulasi.[8]

Hubungan dengan attention-deficit hyperactivity disorder

Banyak anak yang dilabeli indigo didiagnosis mengidap attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD),[10] dan buku Tober dan Carroll yang berjudul The Indigo Children sendiri menghubungkan konsep indigo dengan diagnosis ADHD.[6] Robert Todd Carroll menyatakan bahwa pelabelan anak-anak sebagai indigo merupakan alternatif dari diagnosis yang seolah menunjukkan ketidaksempurnaan, kecacatan atau penyakit kejiwaan.[11][10] Setelah menghubungkan konsep anak indigo dengan ketakutan terhadap penggunaan Ritalin untuk mengontrol ADHD, Carroll berpendapat bahwa ketakutan akan penggunaan Ritalin telah memperkeruh suasana, dan berdasarkan pilihan yang ada, tentu adalah sesuatu yang masuk akal apabila orang tua lebih memilih meyakini bahwa anak mereka itu spesial dan terpilih untuk misi yang penting daripada menerima kenyataan bahwa anak mereka mengidap penyakit kejiwaan.[11]

Stephen Hinshaw, profesor psikologi di Universitas California, Berkeley, menyatakan bahwa ketakutan akan kelebihan pengobatan terhadap anak itu masuk akal, namun anak berbakat yang didiagnosis ADHD dapat belajar lebih baik dengan lebih banyak struktur, bahkan jika struktur tersebut awalnya mengakibatkan kesulitan. Banyak anak yang dilabeli inidgo telah dimasukkan ke sekolah rumah.[4]

Kritik

Menurut psikolog Russell Barkley, pergerakan Zaman Baru belum menghasilkan satu bukti pun mengenai keberadaan anak indigo, dan 17 sifat yang dikaitkan dengan anak indigo itu merupakan efek Forer (atau dalam kata lain, terlalu umum sehingga dapat dikaitkan dengan hampir semua orang). Konsep indigo dikritik terdiri dari sifat-sifat yang terlalu umum, dan juga dianggap sebagai diagnosis palsu yang sama sekali tidak didukung oleh sains.[4][10] Kurangnya dasar ilmiah untuk konsep indigo diakui oleh beberapa tokoh pendukung indigo seperti Doreen Virtue, pengarang buku The Care and Feeding of Indigos, dan James Twyman, orang yang membuat dua film mengenai indigo.[8]

Ahli kesehatan kejiwaan juga khawatir karena pelabelan indigo dapat menghambat diagnosis dan penanganan yang tepat yang dapat membantu sang anak.[4][8] Ahli lain juga menyatakan bahwa sifat-sifat anak indigo dapat diinterpretasikan sebagai pembangkangan dan kewaspadaan belaka.[10]

Nick Colangelo, profesor di Universitas Iowa, menyatakan bahwa buku indigo pertama seharusnya tidak diterbitkan, dan bahwa “…pergerakan anak indigo itu bukan mengenai anak-anak, dan juga bukan mengenai warna indigo, tapi mengenai orang dewasa yang menyebut diri mereka sebagai ahli dan mengeruk uang dari buku, presentasi dan video.”[8]

Komersialisasi

Di artikelnya yang berjudul “Indigo: The Color of Money” (Indigo: Warna Uang), Lorie Anderson menuduh bahwa Twyman dan organisasinya adalah “penipu Zaman Baru yang mencari keuntungan.” Menurutnya, kepercayaan akan anak indigo dapat menghasilkan banyak uang dari penjualan buku, video, sesi bimbingan untuk anak-anak, serta sumbangan.[12] Saat ini ada berbagai macam buku, film, kemah musim panas, dan konferensi yang ditargetkan untuk orang tua yang meyakini bahwa anak mereka adalah seorang indigo.

Catatan kaki

  1. Stenger, Victor J., ”Reality Check: the energy fields of life”, (Committee for Skeptical Inquiry), 1 Juni 1998.
  2. Tappe, NA (1986). Understanding your life through color: Metaphysical concepts in color and aura. Starling Publishers. ISBN 0-940399-00-8.
  3. a b Whedon, Sarah W. (2009-02). ”The Wisdom of Indigo Children: An Emphatic Restatement of the Value of American Children” (PDF). Nova Religio 12 (3): 60–76. doi:10.1525/nr.2009.12.3.60. Diakses pada 25 Juni 2010.
  4. a b c d e Leland, J, ”Are They Here to Save the World? ”, The New York Times, 12 Januari 2006. Diakses pada 15 April 2009.
  5. Tappe, NA. ”All About Indigos – A Nancy Tappe Website”. Diakses pada 15 April 2009.
  6. a b c Tober J & Carroll LA (1999). The Indigo Children: The New Kids Have Arrived. Light Technology Publishing. ISBN 1-56170-608-6.
  7. “Indigo”. Box Office Mojo. Diakses pada 15 Mei 2012.
  8. a b c d e Hyde, J, ”Little Boy Blue ”, (Dallas Observer), 9 Maret 2006. Diakses pada 15 April 2009.
  9. “Індиго (2008)” (dalam bahasa Russian). kinopoisk.ru.
  10. a b c d Jayson, S, ”Indigo kids: Does the science fly? ”, (USA Today), 31 Mei 2005. Diakses pada 23 Oktober 2007.
  11. a b Carroll, RT (2009-02-23). ”Indigo child”. The Skeptic’s Dictionary. Diakses pada 13 April 2009.
  12. Anderson, L (2003-12-01). ”Indigo: the color of money”. Selectsmart.com. Diakses pada 24 September 2010.
formats

Diskusi Sains: Gangguan Kepribadian

Topik Pembahasan: Gangguan Kepribadian
Waktu: Jumat, 15 Juni 2012
Pukul: 19:30-21:00
Tempat: Café Proklamasi, Jalan Proklamasi no. 41, Jakarta
Pembicara: Faisal Magrie

Dalam diskusi Sains Klab minggu ini Faisal Magrie, seorang psikolog klinis dan peneliti di bidang psikologi sosial dan praktik mandiri di lembaga psikologi Asosiasi Berbagi, memberikan presentasi tentang gangguan kepribadian, yang dibagi menjadi beberapa kelompok (cluster).

 

Perkenalan singkat  terhadap topik pembahasan bisa dilihat di link Wikipedia berikut: http://en.wikipedia.org/wiki/Personality_disorders#American_Psychiatric_Association

credit
© Menrva Indonesia